Manusia merencanakan, Hati menuntun dan Tuhan menentukan

Sulawesi, pulau terbesar keempat di Indonesia dan kesebelas di dunia dengan luas sekitar 180.000 km persegi. Pulau yang telah saya diami lebih dari tigapuluh tahun. Di pulau ini terdapat enam provinsi dan lebih dari 80 kota/kabupaten. Alhamdulillah semua ibu kota provinsi dan kota-kota besarnya sudah pernah saya kunjungi, tapi kebanyakan, eh semuanya ding, untuk urusan pekerjaan. Karenanya, dulu terbersit keinginan untuk menjelajahi kembali setiap kotanya demi urusan hati 😀 “Jobs fill your pocket, adventures fill your soul”, kata orang sono

Jelajah Sulawesi awalnya akan dirilis di akhir 2016, setelah sukses dengan Jelajah Flores di 2014 dan Jelajah Sumba plus Jelajah Sumbawa di 2015, tapi karena panggilan mencari Sultan dengan menjelajahi Pulau Kalimantan hingga ke negeri seberang lebih menarik hati, maka Jelajah Sulawesi diundur ke tahun 2017.

Kalau di perjalanan Jelajah-jelajah sebelumnya saya selalu menggunakan berbagai moda transportasi umum; kapal pelni, bus yang nyambung putus nyambung bahkan ber-hitchking ria dengan truk dan pikap, di Jelajah Sulawesi saya ingin yang berbeda. Mimpi saya adalah mengelilingi Sulawesi dengan kendaraan yang nyaman, yang setiap saat bisa diajak mampir di mana saja. Mimpi saya adalah overland Sulawesi dengan Airstream! Hehehe, mumpung mimpi itu gratis, sekalian saja mimpinya yang muluk-muluk. Namun karena perusahaan Airstream belum ada di Indonesia, apalagi di Makassar, saya akhirnya mencoba mencari KW-nya sahaja. Mobil mini bus yang lapang dan nyaman, yang kursinya bisa direbahkan – biar punggung tua saya tak terserang encok- nampaknya cocok menggantikan si Airstream. Mobil ELF atau mini bus L-300 sepertinya bisa memenuhi keinginan saya. Kebetulan di Makassar ada beberapa travel yang menyediakan moda ini dan sudah biasa membawa turis asing berkeliling Sulawesi. Info tentang travel penyedia transport sudah di tangan, itinerary sudah fix, saatnya mencari travel mates.

Dua bulan sebelum hari H, seperti biasa, saya melempar ajakan Jelajah Sulawesi di Grup Makassar Backpacker. Mencari teman untuk sama-sama berlibur di akhir tahun, untuk sama-sama mengelilingi si Pulau K, dan sama-sama membayar biaya sewa Airstream KW 😀
Gayung yang saya lempar langsung disambut. Ada yang tertarik ikut, ada yang ingin ikut setengah jalan, namun lebih banyak yang hanya ikut euforia, tertarik hanya sampai di kata ‘ikuuuut’. Beberapa hari kemudian bahkan ada yang karena punya impian yang sama, menawarkan mobil Avanzanya, geratisss. Ia hanya minta dibantu mengisi bahan bakar. Iman saya goyah. Lupa pada punggung saya yang menua.

Saya pun melakukan ‘social research’ (baca : stalking) ke akun Facebook si pemilik Avanza. Dari postingan-postingannya, doski memang pernah ke beberapa daerah di Sulawesi dengan jalur darat. Terbersit keinginan menanyakan ke salah satu teman saya yang kebetulan ber-mutual friend dengannya. Siapa sih orang ini, bagaimana kah dia? Terpercayakah?  Namun karena saya selalu berbaik sangka sama siapa saja, apalagi ia punya niat baik, saya urungkan dan menyambut baik tawaran Avanza ini. Geratis booow!
Kami pun janjian bertemu untuk membahas rencana perjalanan.  Di pertemuan pertama kami membahas tentang rute dan berlanjut di pertemuan kedua, menghitung kebutuhan bahan bakar untuk lima ribu kilometer yang akan dilalui.

Hitung-hitungan share cost bahan bakar sudah ditentukan, calon travel mates juga sudah cukup, seminggu lagi kami akan memulai perjalanan. Kami pun berencana meet-up dengan calon travel mates lainnya untuk mematangkan persiapan. Tetiba si pemilik mobil menyatakan batal ikut karena alasan keluarga. Shock kah saya? Tentu tidak! Saya shock dan sebal! Biasanya, seminggu sebelum keberangkatan saya tidak lagi memikirkan urusan logistik namun fokus mematangkan itinerary, mencari host dan penginapan, tapi kini harus mulai dari nol lagi. Huh! Saya sampe speechless. Tapi saya bisa apa? Saya tak mungkin memaksanya ikut. Pegangan saya hanya janji, dan mengingkari janji adalah hal biasa bagi banyak orang, mungkin juga baginya. Ah, saya jadi ingat keraguan saya sebelumnya.  Always listen to your heart, Afdhal! It may be on your left, but it’s always right.

Salah seorang  travel mate mengusulkan untuk naik bus putus nyambung saja yang langsung saya tolak. Sempat terbersit untuk membatalkan Jelajah ini, tapi apa iya hanya karena hal gratis, impian besar harus batal? Not so me! Malu dong sama reputasi saya, hehehe. Akhirnya saya kembali ke rencana semula, ke niat awal, memanjakan si punggung #eh berjelajah ria dengan Airstream KW!
Alhamdulillah saya punya teman yang punya kenalan di salah satu travel agent terbesar di Makassar. Dan Alhamdulillah lagi mini bus yang saya inginkan masih tersedia, padahal Desember adalah  peak season. Dan Alhamdulillah lagiii saya dapat harga spesial. All in, bus, BBM dan driver. Aha!!

Airstream wanna be! 🤗

Urusan kendaraan beres, ternyata urusan di travel mates tidak beres. Karena harus menyewa mobil, beberapa peserta menyatakan mundur. Duh! Mau tidak mau, jadwal keberangkatan diundur satu minggu untuk mencari calon travel mates pengganti.  Akhirnya liburan yang awalnya direncanakan tiga minggu dipangkas menjadi dua minggu. Trapapa lah, the show must go on! Alhamdulillah dalam seminggu lima orang calon travel mates membuat janji sehidup semati, #eh berbagi hidup selama dua minggu ber-overland ria melihat indahnya Pulau Sulawesi.

Dua hari sebelum keberangkatan, ternyata masih ada deramah yang episodenya belum berakhir. Salah satu peserta meminta untuk berangkat belakangan. Karena ada urusan dengan keluarga yang belum dibereskan. Doski ini sejak awal cukup annoying dan agak saya ragukan komitmennya. Baru kenal sudah nyuruh-nyuruh beli baju kaos untuk seragam Jelajah Sulawesi. Baru sekali bertemu sudah minta ditemani vaksin ke puskesmas Pelabuhan Makassar, komen-komennya pun sering offside. Untuk membuktikan komitmennya, saya akhirnya meminta semua peserta untuk mentransfer biaya sewa bus. Dan sampai batas waktu yang ditentukan, si Doski tidak mentransfer, dengan alasan di daerah tempat tinggalnya hanya ada ATM BRI sementara yang ia punya ATM Mandiri. Ia mungkin lupa kalau sudah sejak lama telah ditemukan inovasi ‘ATM Bersama’.  Entahlah.. Sekali lagi  Only do what your heart tells you, Afdhal!

Untungnya beberapa hari sebelumnya, salah seorang calon peserta yang awalnya membatalkan ikut karena jadwal yang kurang cocok, kembali mengontak saya. “Kak kalau masih ada sisa 1 seat dan saya dikasih izin sama bos. Saya InshaAllah ikut”. “Sudah full, Dek. Kecuali ada yang tiba-tiba batal lagi dalam 2-3 hari ini.” Jawab saya.  Ternyata kata-kata saya berbuah. Ada yang benar-benar batal ikut!  Lucky him! Akhirnya si Lucky terbang dari Banjarmasin ke Makassar, duabelas jam sebelum keberangkatan Jelajah Sulawesi.

Setelah berbagai deramah, alhamdulillah Sabtu, 23 Desember 2017 pukul sembilan pagi, bersama lima orang travel mates, diiringi sinar matahari yang telah seminggu enggan menampakkan dirinya, kami meninggalkan Makassar dan memulai perjalanan #JelajahSulawesi.

4 Replies to “Manusia merencanakan, Hati menuntun dan Tuhan menentukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *