Top five wisata Banjarmasin

Hari ketiga #jelajahborneo

Meski sedang liburan, jam tidur kami justru tidak bertambah. Ahad, 25 Desember 2016 kami harus bangun sebelum adzan subuh berkumandang, padahal semalam kami tidur agak telat karena lembur mencuci pakaian kotor dan ngobrol dengan teman-teman South Borneo Traveler (SBT).

Sebelum subuh kami sudah bergegas dan antri mandi seolah hendak mengikuti upacara bendera 😁 Jadwal #jelajahborneo yang padat merayap membuat kami harus panda-pandai memanfaatkan waktu. Uang bisa dicari tapi waktu dan kesempatan jarang datang dua kali. apasiiiy 😛 Di Banjarmasin kami hanya punya waktu sehari. Padahal ada banyak tempat kece yang wajib dikunjungi. Berikut ini lima destinasi wisata yang bisa dikunjungi jika cuma punya waktu dua belas jam di kota terpadat di Kalimantan ini.

Pasar Terapung Lok Baintan

🎵…RCTI okeee.. 🎵 Masih ingat iklan salah satu tv swasta yang menampilkan seorang Ibu berkerudung yang mengacungkan jempolnya dan berlatar pasar terapung? Maaf kalau pertanyaan ini mengingatkan umur Anda 😛 Iklan Ibu Jempol ini bersetting di salah satu pasar terapung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Sebagai kota yang terkenal dengan julukan kota Seribu Sungai, kehidupan masyarakat di Banjarmasin banyak berkaitan dengan sungai, salah satunya adalah aktifitas pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka yang berlangsung di atas perahu, di pasar terapung. Pasar terapung yang menjadi lokasi pembuatan iklan RTCI di tahun 90-an tersebut berlokasi di Muara Sungai Kuin, anak Sungai Barito, sekitar  lima kilometer dari pusat Kota Banjarmasin. Pasar ini konon telah ada sejak zaman Kesultanan Banjar. Meski tak jauh dari pusat kota, kini pasar tersebut sudah tidak begitu ramai, mungkin tergerus arus globalisasi (halah). Selain di muara Sungai Kuin, di Desa Lok Baintan Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar, juga terdapat pasar terapung. Pasar ini lebih ramai dan saat ini lebih sering dikunjungi wisatawan dibanding Pasar Kuin. Pasar terapung Lok Baintan berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Martapura, sungai terpanjang di Banjarmasin.

Usai shalat subuh, saya, Erni, Lastri, Sari dan dua orang kawan dari South Borneo Traveler (SBT),  Lisda dan Hendra bertolak dari Jalan Oktober menuju Pasar Sungai Lulut di Jalan Veteran. Di sini telah menunggu klotok yang akan mengantar kami ke Lok Baintan. Klotok ini dipesan Sari sehari sebelumnya. Klotok adalah sebutan kapal kayu atau perahu bermesin.  Konon dinamakan demikian karena bunyi mesinnya saat menyusuri sungai. Klotok..klotok..ktotok..

Selain dengan Klotok, untuk mencapai Pasar Lok Baintan bisa juga menggunakan mobil atau motor, namun butuh waktu yang lebih lama karena jalannya berliku dan agak rusak. Sedangkan dengan klotok butuh waktu kurang dari satu jam. Ini kali kedua saya mengunjungi Lok Baintan dan saya selalu memilih menyusuri sungai ketimbang lewat darat. Kasian si semok jika harus melewati jalan yang rusak dan berliku ☺️
Bonus perjalanan dengan klotok adalah pemandangan kehidupan pagi hari masyarakat Banjar yang berumah di atas Sungai Martapura juga sunrise yang menantang di depan klotok.

Saat kami tiba, puluhan perahu yang membawa buah-buahan dan  sayuran yang menggunung, serta hasil laut dan jajanan khas Banjar telah ramai memenuhi pasar terapung. Para pedagang umumnya para ibu dengan busana khas mereka, sarung dan kerudung. Ada pula yang memakai caping khas Banjarmasin. Beberapa diantaranya ada yang memakai bedak dingin. Mereka sibuk bertransaksi tanpa merasa terganggu dengan wisatawan yang juga sibuk berselfie ria di tengah-tengah mereka. Tidak hanya uang, para penjual juga menerima pembayaran dagangan mereka berupa barang. Ya sistem barter masih berlaku di sini. Umumnya yang dibarter adalah hasil bumi berupa buah-buahan dan sayuran.

Selain untuk kebutuhan sehari-hari, hasil bumi yang dijajakan di pasar ini juga dibeli untuk dijajakan kembali. Tak heran jika ada beberapa ibu yang hanya menjual dagangannya dalam jumlah besar, per keranjang, bukan per biji. Dan di pasar ini saya menemukan buah Settung, sattulu atau kacapi, buah yang dengan mendengar namanya saja kelenjar saliva saya langsung bekerja aktif. Buah ini sudah sangat jarang saya temukan di Makassar. Namun di pasar ini saya menemukannya bergunung-gunung!

Pasar ini berlangsung sekitar tiga jam. Sekira pukul Sembilan, para ibu akan mendayung perahunya meninggalkan Lok Baintan dan akan kembali lagi esok hari. Jadi jika berniat mengunjungi pasar ini, berangkatlah seusai subuh. Dan jangan lupa memesan klotok sehari sebelumnya.

Saat ke sini tahun 2012, biaya sewa klotok yang bisa memuat hingga lima orang sekitar 350 ribu. Kunjungan kali ini klotoknya dibayar oleh Sari, saat kami ngotot menanyakan berapa sewanya doski diam seribu bahasa.

O iya, jika ingin melihat atau memotret pasar ini dari atas tapi tidak punya drone, Anda bisa naik ke atas jembatan gantung yang ada di dekat lokasi pasar. Pemandangan hiruk pikuk pasar sangat cantik dilihat dari atas jembatan.




Alun-alun kota Banjarmasin

Usai menikmati pasar terapung, klotok membawa kami kembali ke Kota Banjarmasin. Ibu-ibu yang sedang mencuci pakaian, anak-anak yang mandi sambil berenang, beberapa orang lelaki paruh baya yang menunggu kailnya ditemani secangkir kopi adalah pemandangan yang disuguhkan Sungai Martapara di perjalanan pulang kami. Sungai Martapura memang menjadi denyut penghidupan sebagian warga Banjarmasin.

Abang klotok mengantar kami hingga ke tempat yang tak jauh dari Tugu Nol Kilometer Banjarmasin, salah satu spot foto wajib. Dari sini kami berjalan kaki menuju alun-alun Kota Banjarmasin. Hendra dan Lisda tidak ikut bersama kami, karena ada urusan urgent yang harus diselesaikan. Tinggallah kami berempat menyusuri tepi sungai Martapura yang membelah kota yang pagi itu ramai dilalui oleh klotok-klotok wisata. Di alun-alun terdapat patung Bekantan Raksasa, sebuah ikon baru di kota ini dan sangat ramai dikunjungi saat minggu pagi. Bekantan, atau monyet Belanda adalah fauna khas Kota Banjarmasin. Di alun-alun kota ini kita bisa menumpang klotok yang akan mengantar mengelilingi Sungai Martapura sepanjang alun-alun kota, cukup dengan membayar lima ribu rupiah. Tak jauh dari sini pula terdapat pasar pagi, letaknya juga di pinggir sungai.  Tak hanya menjajakan sayuran dan buah, di sini juga banyak dijajakan makanan siap santap. Belum sarapan? Silahkan buka dompet dan pilih makanan yang Anda sukai.

Dari alun-alun kami menuju museum kota yang letaknya juga masih di tepi Sungai Martapura. Museum ini menampilkan sejarah kota Banjarmasin, pakaian adat dan juga sejarah Sasirangan, kain khas Banjarmasin. Mau foto dengan pakaian pengantin ala Banjar tapi tak bawa pasangan? Don’t worry be happy, bisa! 😘😘


Soto Banjar

Time for breakfast!
Sekira pukul delapan pagi kami akhirnya menghentikan aktifitas jalan kaki dan kembali bermotor ke arah Sungai Kuin. Setelah bermotor sekitar sepuluh menit, Sari menghentikan mesin motornya di depan sebuah warung soto yang parkirannya di penuhi motor dan sepeda.
Spanduk besar bertuliskan ‘Soto Rina’ menyambut kedatangan kami. Nampak puluhan pengunjung memenuhi warung ini. Dan di meja kasir duduk seorang gadis manis yang wajahnya familiar. Ah, ternyata Lisda adalah pemilik warung Soto Rina, salah satu warung Soto Banjar yang terkenal dan recommended di Banjarmasin. Urusan urgent pagi tadi yang harus diselesaikan adalah mengawasi warung sotonya yang selalu diserbu banyak pengunjung di setiap weekend.

Soto Banjar adalah soto khas Banjarmasin. Seperti soto pada umumya, soto banjar berisi bihun, ayam suir dan irisan telur rebus.  Kekhasan soto Banjar Rina terletak pada kuahnya yang gurih dan perkedelnya yang dibuat dari singkong yang direbus lalu dihaluskan dan diberi bumbu sop kemudian dibulatkan lalu digoreng. Soto ini dihidangkan bersama lontong, namun pagi itu karena Soto Rina kebanjiran bikers yang sudah memborong habis si lontong, kami akhirnya menikmatinya bersama sepiring nasi. Namun ini tidak mengurangi kenikmatan si soto. Justru berkah, karena perut kami butuh karbo yang banyak brur! Hehehe. Soto ini bertambah istimewa jika dinikmati bersama doski #eh sate ayam berbumbu kacang yang juga dijajakan di Soto Rina.

Tidak hanya Soto Banjar, Warung Soto Rina juga menjajakan cemilan ringan khas Banjarmasin seperti Wadai Ilat Sapi, kue sagu, dll. One stop shop!
Seperti warung mie kering di Makassar, porsi Soto Banjar di Warung Rina, ada dua macam, porsi besar dan porsi kecil. Waktu itu kami menikmati yang porsi besar. Jangan tanya harganya ya, kurang enak tanya-tanya harga, lagi-lagi semuanya gratis termasuk beberapa bungkus cemilan ringan yang masuk di tas kami. What a nice hospitality 😉

O iya, Warung Soto Rina ini terletak di jalan Kuin Cerucuk RT 8 No. 30 Banjarmasin.

Masjid Sultan Suriansyah

Memberikan nutrisi untuk si kaki, sudah. Untuk si perut juga sudah. Saatnya memberikan nutrisi bagi si jiwa. Usai menyantap Soto Banjar yang lezatto kami kembali bermotor ke daerah yang dikenal dengan nama Banjar lama. Daerah ini dulunya merupakan ibukota Kesultanan Banjar yang pertama kali.  Tepat di tepi Sungai Kuin, terdapat sebuah bangunan unik beratap kerucut. Aristekturnya mirip Joglo, rumah adat Jawa. Bangunan yang terbuat dari kayu ulin ini adalah masjid tertua di Banjarmasin, Masjid Sultan Suriansyah. Nama masjid ini diambil dari nama Islam Pangeran Samudera, Raja Kerajaan Banjar. Konon masjid ini telah berumur lebih dari empat ratus tahun karena dibangun sekira tahun 1526 Masehi saat Islam baru masuk ke Banjar.

Bangunan masjid berbentuk arsitektur tradisional Banjar yang lantainya tidak rapat ke tanah namun berupa panggung. Meski telah direnovasi beberapa kali, namun bentuk asli dari Masjid tetap dipertahankan. Dari luar, warna bangunan masjid didominasi oleh warna hijau dengan atap berwarna hitam. Namun saat masuk, tiang dan lantai masjid didominasi oleh warna hitam, warna kayu ulin. Pada bagian mihrab masjid ini memiliki atap sendiri yang terpisah dengan bangunan utama. Karena terbuat dari kayu, masjid ini sangat sejuk. Karpetnya yang empuk menggoda iman untuk leyeh-leyeh lebih lama 😁

Menurut beberapa referensi, ada pengaruh Masjid di Demak terhadap arsitektur Masjid Sultan Suriasyah. Karena yang membawa ajaran agama Islam ke Banjar adalah Kesultanan Demak. Hmmm…pantas saja bangunannya mirip Joglo.

Masjid Sultan Suriansyah terletak di Jalan Alalak Utara RT 5, Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.



Pasar Intan Martapura

Memberikan nutrisi untuk si kaki, sudah. Untuk si perut juga sudah.  Apalagi untuk sang jiwa, bereess. Kini saatnya memberi nutrisi bagi si Naluri, shopping time!

Meski harus menempuh jarak lebih dari empat puluh kilometer, kami masih semangat empat lima menuju Pasar Intan Martapura. Karena tak afdhal rasanya berkunjung ke Kalimantan Selatan tanpa menyempatkan diri ke Pasar Martapura, walaupun sekedar window shopping.
Martapura adalah Ibukota Kabupaten Banjar, selain terkenal sebagai kota santri, Martapula juga terkenal karena pasar intannya. Di pasar ini kita bisa membeli berbagai macam jenis batu permata dengan harga mulai dari dua puluh ribu hingga jutaan rupiah. Meski namanya Pasar Intan, di pasar ini tidak hanya batu-batu berharga yang dijual, namun kita juga bisa menemukan berbagai macam kerajinan tangan, souvenir, baju kaos Kalimantan, tas rajut dan kain sasirangan. Tempat yang sangat cocok untuk membeli oleh-oleh.

Haus dan lapar karena kelamaan belanja? Tidak perlu khawatir, karena di sebelah pasar ini banyak penjual yang menjajakan makanan khas Banjar, ikan patin yang segar dan enak bisa Anda coba di sini. Tak jauh dari pasar, terdapat Masjid Al-Karomah, Masjid terbesar di Kalimantan Selatan bahkan konon terbesar di Pulau Kalimantan.

Pasar Intan Martpura terletak di Jalan poros Ahmad Yani, Kabupaten Banjar. Sekira tigapuluh menit dari Bandara Syamsuddin Noor dan satu jam dari Kota Banjarmasin.

Nah, ingin punya cincin blue safir? mau merasakan soto banjar yang asli? yuks cek tiket pesawat ke Banjarmasin 😉

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *