(Not so) Long road to Heaven

#jelajahborneo Hari ke-empat

Setelah window shopping di Pasar Intan Martapura, kami pun kembali ke Kota Banjarmasin. Kembali menyusuri empat puluh kilometer mulusnya jalan raya Kalimantan Selatan dengan perasaan galau. Eh kok galau? Iyaa, galau karena cincin blue safir impian cuma bisa dipandang-pandang. Ia tak mau berpindah ke jari eikeh kalau tak dipancing dengan fulus. Fulus yang jumlahnya melebihi total bujet #jelajahborneo. Huhuhu, kita belum berjodoh, Blue! Wait sampai saya bertemu abang sultan yaa 😛

Tiba di Banjarmasin, galau lain sudah menanti. Kami bingung apakah malam ini akan langsung berangkat ke Palangkaraya biar paginya bisa langsung ke Pangkalan Bun, atau sekalian saja besok pagi baru meninggalkan Banjarmasin. Inilah enaknya (atau tidak enaknya?!?) liburan sendiri tanpa travel agent, jadwalnya serba tidak tentu 😀
Angkutan Banjarmasin – Palangkaraya ada dua pilihan, bus dan travel (avanza atau xenia). Bus hanya ada di pagi hari, sementara travel bisa berangkat kapan saja tergantung jumlah penumpangnya. Palangkaraya adalah Ibukota Kalimantan Tengah, meski ibukota provinsi, ia tidak masuk dalam daftar kota yang akan kami kunjungi, namun harus dilewati. Tujuan kami adalah Pangkalan Bun, ibukota kabupaten Kotawaringin Barat yang namanya masyhur sampai ke manca negara. Dibutuhkan waktu sekitar empat jam untuk mencapai Palangkaraya dari Banjarmasin. Sementara Palangkaraya ke Pangkalan Bun butuh waktu sekitar delapan jam.

Setelah mempertimbangkan, jika malam ini meninggalkan Banjarmasin, maka kami tetap akan nginap di Palangkaraya (yang kemungkinan butuh biaya penginapan lagi)  karena bus ke Pangkalan Bun baru ada di siang hari, kami pun memutuskan untuk lanjut nginap di Banjarmasin.

Pukul delapan pagi, 27 Desember backpack-backpack kami sudah siap untuk dipanggul kembali. Hendra dan Sari pun sudah siap mengantar kami ke Terminal Banjarmasin bersama bingkisan makan siang. Ah, terberkatilah kalian.  Kami di antar menuju Yessoe, perwakilan bus yang sudah kami booking semalam. Bus ini ada dua tipe, AC dan Non AC. Mengingat prinsip kalau ada yang gratis kenapa harus bayar dan kalau ada yang lebih murah kenapa harus membayar mahal, maka kami memilih yang non AC.

“Afdhaaaal”,

tiba-tiba  suara yang cukup familiar memanggil nama saya. Saya pun berpaling ke arah datangnya suara. Dan di pintu perwakilan bus Yessoe nampak seorang perempuan berjilbab dengan tentengan tas plastik. Awalnya ia tersenyum lalu berganti merajuk.

“kamu yaaa, datang ke Banjarmasin nda kasih kabar, sudah mau jalan aja baru nelpon”.

Lima belas menit sebelum kami naik ke Bus, Ida, kawan lama saya tiba di terminal setelah pagi tadi saya mengontaknya dan meminta maaf karena tidak sempat bertemu. Dulu kami sama-sama kerja di proyek negerinya Kate Middleton dan ini adalah perjumpaan pertama kami setelah proyek berakhir di tahun 2006. Kami masih ingin bernostlagia. Masih banyak yang ingin kami obrolkan, namun klakson panjang bus sudah memanggil. Akhirnya pukul sebelas tepat, bus Yessoe pun meninggalkan Terminal Banjarmasin.

Sawah hijau, lahan gambut, sungai besar dan kecil, warung-warung yang menjajakan hasil bumi adalah pemandangan kami sepanjang perjalanan dari Banjarmasin menuju Palangkaraya. Salah satu sungai yang kami lewati adalah Sungai Barito, sungai terpanjang di Kalimantan Selatan. Satu jam sebelum memasuki Kota Palangkaraya, kami juga melewati jalan layang terpanjang di Indonesia, Tumbang Nusa. Panjangnya sekira 10.3 kilometer, dibangun pada tahun 2005-2006.  Jalan layang ini adalah satu-satunya jalan darat yang menghubungkan Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Dibangun di atas rawa gambut yang mengalirkan sungai-sungai kecil. Konon dulu, sebelum jembatan ini dibangun, tak jarang akses dua provinsi ini terputus. Saat musim hujan sungai-sungai akan meluap sehingga menutupi jalan penghubung. Masyarakat pun membuat ‘fery’ dari bambu untuk menyeberangkan kendaraan yang lewat. Ah, ingin rasanya turun dan berselfie ria di jalan layang ini, biar bisa menyaingi ‘si manis jembatan Ancol’. Apa daya bus bukan monopoli kami. Ada puluhan penumpang lainnya yang harus dimintai izin 😁

Memasuki waktu Ashar, Yessoe pun memasuki Palangka Raya dan berhenti di perwakilannya di jalan RTA Milono. Di perwakilan bus ini terdapat mushala yang juga bisa dimanfaatkan untuk beristirahat sebelum perjalanan dilanjutkan. Pukul lima sore, kami kembali memasuki bus, namun bus yang berbeda dari bus yang bus kami tumpangi sebelumnya. Lebih besar dan lebih baru namun tetap tidak ber-AC. Saat memasuki waktu magrib, bus kembali berhenti di daerah Sampit. Kami pun kembali turun untuk shalat magrib dan mengisi kampung tengah. Ada rasa ngeri, nyeri dan kurang nyaman setiap mendengar nama kota ini di sebut. Kota yang di tahun 1997 pernah menjadi suram karena konflik horizontal berbau sara yang memakan ratusan korban jiwa. Semoga konflik yang berulang di tahun 2001 ini tidak pernah terjadi lagi.

Pukul satu dinihari, kami akhirnya tiba di Pangkalan Bun, the final destination. Yessoe kembali memasuki perwakilannya setelah menempuh perjalanan selama delapan jam. Perjalanan yang tidak begitu panjang namun tak semulus jalan tol. Ditambah posisi duduk saya berada di belakang, tepat di atas ban, lengkap lah sudah. Setiap kali bus melewati jalan berlubang, maka saat itu juga saya pasti akan melayang 😜

Seperti di Palangkaraya, Perwakilan Yessoe di Pangkalan Bun juga menyediakan kamar istirahat untuk penumpang. Disiapkan bagi mereka yang akan melanjutkan perjalanan esok hari ke kota lain atau bagi yang menunggu jemputan. Tapi jangan membayangkan ada tempat tidur ya. Kamar yang disiapkan hanya berupa ruang kosong. Kami pun sepakat untuk beristirahat di kamar ini, sambil menunggu jemputan ke surga esok hari. Separuh malam ini akan kami habiskan di dalam sleeping bag, separuhnya sudah kami habiskan di atas goncangan bus. Untunglah dua malam sebelumnya punggung kami sudah merasakan empuknya spring bed di rumah Sari. Roda dunia berputar, girls!

“Afdhal, ada yang cari”, Kata Erni sambil mengetuk pintu kamar mandi.

“ Siapa”? tanya saya. “Bukan ji Abang Sultan yang mau membelikan cicin blue safir?” 😛

“Fahmi”. Erni menyampaikan berita kalau jemputan kami sudah datang. Padahal saya baru saja mau bersih-bersih diri sebelum masuk ke sleeping bag. Fahmi ini adalah tour agent yang akan mengantar kami melihat surga Kalimantan.

“Kami akan nginap di mana malam ini Mas Fahmi”? Tanya saya ketika kami sudah di dalam Honda Mobilio milik Fahmi.

“Nginap di pelabuhan aja Mbak, biar besok pagi bisa langsung berangkat”, Jawabnya.

Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, si mobilio pun berhenti. Kami lalu diajak masuk ke sebuah bangunan kantor. Ternyata kami hanya numpang lewat. Dua orang kawan Fahmi yang membantu membawakan backpack kami dan menjadi penunjuk jalan, terus berjalan hingga ke belakang kantor yang ternyata sebuah sungai lalu berhenti di depan deretan kapal kayu.

“Malam ini mbak bertiga akan langsung nginap di Klotok. Bapak ini adalah nahkoda yang besok akan membawa Klotok ini dan abang ini adalah ABK kapalnya.” Fahmi menjawab kebingungan kami.

Kami pun naik ke salah satu klotok dan langsung melihat sebuah kasur queen size dengan tiga buah bantal dan tiga buah selimut yang terlipat rapi di tengah-tengah klotok. Horeeee, malam ini kita tetap berjodoh dengan kasur. Punggung ini memang berhak bertemu bidang datar yang empuk setelah perjalanan 650 kilometer yang tak jarang diselingi guncangan dahsyat. Ah, kali ini putaran si roda dunia lebih lambat.

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin…

Cost:
Bus Banjarmasin – Pangkalan Bun : 190K
Makan siang: bekal dari Sari dan Ida
Makan malam : 20K

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *