Hello Batulicin

Hari kedua #jelajahborneo

“ABK dek siap muka belakang…”
Setelah mengarungi selat Makassar selama kurang lebih dua puluh empat jam, akhirnya kalimat sakti yang ditunggu-tunggu para penumpang mengalun juga dari speaker KM Binaiya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tidak ada perbedaan waktu antara Makassar dan Batulicin. Mohon untuk tidak mengatifkan telepon seluler hingga Anda tiba di terminal kedatangan  😀

Seperti penumpang lainnya, saya, Erni dan Lastri bersiap-siap meninggalkan kapal. Tadinya kami masih ingin leyeh-leyeh, membiarkan penumpang lain turun lebih dulu. Namun ABK sudah mulai membersihkan wilayah kekuasaan kami dan mulai menyusun kasur-kasur yang kami tiduri. Mau tak mau kami pun beranjak.

Sambil mengencangkan tali kerel agar tetap nyaman di punggung meski beratnya lebih dari sepuluh kilo, saya  menuruni tangga kapal. Seperti saat naik kemarin, saat turun dari kapal hari ini, kami tidak perlu berebut dan berjubel-jubel ria. Penumpang yang turun di Batulicin tidak begitu banyak. Cuma butuh kesabaran sekira sepuluh menit, kami pun melenggang turun meninggalkan KM Binaiya.  Rimbunnya pepohonan bakau yang menghijau menyambut kedatangan kami dan menjadi penyejuk mata di tengah teriknya matahari pagi Batulicin.

Dari dermaga kami tak langsung ke terminal mengejar bus ke Banjarmasin karena info yang kami dapat, bus hanya ada di pagi hari. Di atas jam sepuluh hanya ada travel. Travel adalah sebutan untuk angkutan antar kabupaten yang menggunakan mobil Avanza atau Xenia. Dari dermaga kami mampir ke ruang tunggu pelabuhan yang jaraknya sekitar 100 meter. Di ruang tunggu kami  melakukan orientasi lapangan (baca: mencari kamar mandi dan kantin ). Sudah dua puluh empat jam body kami tak diguyur air. Selama di kapal, tak sanggup rasanya mandi sambil diayun gelombang laut.

Pelabuhan Batulicin tergolong pelabuhan kecil, keramaian hanya ada ketika kapal berlabuh. KM Binaiya hanya berlabuh kurang dari dua jam. Begitu sauh diangkat, pelabuhan menjadi sepi dan ruang tunggu pun akan dikunci. Pedagang makanan yang biasanya banyak di daerah pelabuhan, di Batulicin ini hanya ada satu, itupun terletak di luar pagar pelabuhan.

Sukses melakukan orientasi lapangan, kami lalu meminta izin security yang bertugas untuk numpang mandi. Setelah izin keluar, kami pun bergantian masuk ke kamar mandi. Ada dua kamar mandi yang cukup bersih. Tak ada bau pesing yang jamak ada di pelabuhan-pelabuhan kita. Keran air di dalam baknya bukan sekedar hiasan, tinggal diputar air segar langsung mengalir dengan deras.

Awalnya kami tak tahu kalau ruang tunggu harus dikunci. Kami mandi dan leyeh-leyeh seenaknya. Pelabuhan serasa milik kami bertiga.

“mbak udah selesai kah?” Pak security melemparkan pertanyaan dari luar Mushala pelabuhan. Kami yang sedang rebahan tiba-tiba melompat bangun. “Pelabuhan sudah mau ditutup”, imbuhnya. Kamipun bergegas membereskan kerel. Keluar dari Mushala, Pak Security menanyakan tujuan kami. Kamipun menjelaskan kalau kami hendak ke Banjarmasin dan pengennya naik bus. Pak Security yang ternyata perantau asal Majene Sulawesi Barat  menjelaskan kalau siang sudah tidak ada bus, cuma ada travel. Kalau mau, ia bisa menelpon kawannya yang punya travel untuk menjemput kami di pelabuhan ini. Kelebihan travel, penumpang dijemput dan diantar hingga ke tujuan, bukan ke terminal. Juga lebih nyaman karena ber-AC. Kekurangannya, harga tiketnya tidak ramah untuk kantong backpacker 😀

Menurut Pak Security, kalau mau sabar se sabar-sabarnya, bisa menunggu bus dari daerah Tanah Tumbu yang lewat di pertigaan pelabuhan fery. Sekitar satu kilometer dari tempat kami saat itu. Kalau beruntung bisa dapat sisa kursi, tapi biasanya cuma satu-dua kursi yang kosong dan tak jelas jam berapa bus  akan lewat. Kalau pagi hari kita bisa ke terminal yang jaraknya sekitar lima kilometer dari pelabuhan, dengan ojek sekira lima hingga sepuluh ribu. Di sana ada bus ke Banjarmasin dengan harga tiket sekira delapan puluh ribu rupiah. Setelah bermusyawarah akhirnya kami mufakat untuk naik travel saja. Pak Security pun menelpon kawannya.

Memanfaatkan air bersih pelabuhan, sudah.

Numpang shalat dan leyeh-leyeh di Mushala, sudah.

Tetiba mata kami tertumbuk pada tulisan di tembok, “Free Wifi”. Wuiiih, pelabuhan ini keren!
Meski masing-masing punya paket internet, kami langsung mencoba memanfaatkan wifi pelabuhan.  Kalau ada yang gratis semuanya harus dicoba 😛
Sambil menunggu travel, kami mencoba fasilitas kece ini. Namun ternyata wifinya saaaangat lambat. Sangat cocok dipakai untuk melatih kesabaran 😀

Kamar mandi bersih,  ada mushala, ada layanan travel dan juga ada wifi! Apalagi yang kurang?!? Kurang cepat bukan lah masalah, om!


Dua puluh menit berlalu, datanglah travel yang ditunggu-tunggu. Kami pun berpindah dari kursi ruang tunggu pelabuhan ke kursi Avanza dan bersiap melanjutkan perjalanan ke Banjarmasin. Tadinya saya ingin duduk samping pak kusir yang sedang bekerja #eh samping pak supir, namun ternyata kursi VIP itu sudah dibooking dan penumpangnya akan dijemput setelah kami.  Akhirnya saya duduk di level dua sebangku dengan Lastri, sedang Erni memilih duduk sendiri di bagian belakang, biar bisa rebahan katanya.  Formasi travel di Batulicin adalah 1-2-2. Jauuuuuh beda dengan formasi mobil angkutan di beberapa kabupaten Sulsel. Dulu di Makassar, jika travel ke kabupaten dengan mobil kecil seperti panther atau kijang, harus menyiapkan ilmu menguruskan body. Formasinya 2-4-4 bok! Kalau duduk samping pak supir, siap-siap rebutan space dengan persneling mobil 😀

Kami pun meninggalkan pelabuhan dan mulai memasuki Kota Batulicin yang merupakan Ibukota Kabupaten Tanah Tumbu, Kalimantan Selatan (Kalsel). Karena terletak di tepi Sungai Batulicin, kota ini menjadi salah satu jalur penting pengiriman batubara dari Kalsel ke berbagai daerah di tanah air bahkan  ke luar negeri. Batubara dan kelapa sawit adalah dua hasil bumi yang banyak diekspor dari provinsi seribu sungai ini.

Perjalanan kami dari Batulicin menuju Banjarmasin akan menempuh jarak sekira 265km. Setelah berjalan sekitar satu jam, Avanza masuk ke sebuah kompleks perumahan. Ternyata menjemput seorang penumpang lagi yang akhirnya membatalkan impian Erni untuk rebahan sepanjang perjalanan.

Menjelang magrib kami memasuki Kota Banjarmasin dan si Avanza berbelok ke Syamsudin Noor, Bandara Internasional di Banjarmasin, mengantar kawan sebangku Erni yang akan terbang ke Balikpapan. Dari bandara, Avanza menuju ke Bulan Oktober eh ke Jalan Oktober, daerah yang menjadi tujuan kami. Di jalan Oktober ini tinggal seorang gadis manis yang akan kami repotkan selama kami di Banjarmasin.  Sari Yulia, si gadis manis, adalah  kawan baru yang kami kenal di Komunitas Makassar Backpacker.
Sekira pukul tujuh saat adzan Isya berkumandang, kami tiba di rumah si gadis manis. Sari bersama tiga orang kawannya dari South Borneo Traveler plus pisang goreng dkk dan teh hangat telah lama menyambut kedatangan kami. Nyamannaaaa….

 

Cost :

Travel Batulicin – Banjarmasin: 140K

Makan siang : 27K

4 Replies to “Hello Batulicin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *