Semalam di Selat Makassar

Hari pertama #jelajahborneo

Sudah jamak, jika lebih dari dua orang perempuan berkumpul, ceritanya akan panjang kali lebar. Apalagi jika misi dan hobi mereka sama, sama-sama pajokka (tukang jalan) dan sama-sama high quality jomblo (jleb!),  maka cerita akan menjadi panjang kali lebar kali tinggi.

Syahdan, di medio Mei 2015, usai makan siang di #mymessykitchen, saya bersama dua orang kawan tak langsung beranjak dari meja makan.  Kami membincangkan banyak hal. Mulai dari urusan fashion, urusan Makassar yang semakin macet di mana-mana, utang negara yang tak kunjung habis hingga persoalan gombal warming yang membuat musim di Makassar menjadi galau. Di ujung perbincangan, tetiba kami iseng menyusun rencana perjalanan. Perjalanan  melintasi kota-kota di Pulau Kalimantan dan menembus perbatasan negeri-negeri para sultan. Trip Mencari Sultan, demikian akhirnya kami menamakan perjalanan tersebut. Perjalanan yang sesungguhnya entah kapan akan diwujudkan. Karena seperti prinsip manejemen, FIFO, first in first out, mimpi yang harus diwujudkan adalah mimpi yang lebih dulu datang. Maka, tinggallah mimpi ke negeri para sultan di antrian paling bagian belakang disaksikan piring-piring kotor yang sejak tadi minta dibereskan.

Manusia boleh berencana, namun Allah SWT Sang Pemilik masa, penentu segalanya. Delapan belas bulan berlalu, negeri para sultan pun memanggil. Impian mencari sultan minta diwujudkan meski dua dari tiga manis sang pencetus ide belum mampu mewujudkannya. Dua gadis manis pun tergantikan dua gadis, Erni dan Lastri, yang konon tangguh. Dan ketangguhannya langsung diuji oleh ganasnya ombak Desember Selat Makassar.

 

23 Desember pukul 6 pagi, kami sudah duduk manis di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, menikmati kopi dan burasa sambil menunggu kapal Pelni yang akan kami tumpangi. Sudah tiga Desember berturut-turut saya memanfaatkan jasa kapal Pelni untuk liburan. Dan dua tahun terakhir selalu ada yang baru di Pelabuhan Soekarno-Hatta. Kalau tahun lalu saya surprise dengan adanya fasilitas garbarata,  tahun ini saya dibuat surprise dengan adanya posko pemeriksaan kesehatan di depan pelabuhan. Gratis!! Tidak hanya pemeriksaan kesehatan loh, tapi Adek Dokter yang bertugas juga sukarela memberi obat-obatan secara cuma-cuma. Sebenarnya fasilitas ini tidak gratis, karena disponsori oleh Jasa Raharja yang biayanya termasuk dalam harga tiket.  Surprise lainnya adalah jumlah penumpang hari itu sangat sedikit, tak ada acara berhimpit-himpitan dan berjubel-jubelan ria saat masuk ke kapal. Dan karena jumlah penumpang tidak banyak, peluang untuk mendapatkan tempat tidur di atas kapal nampaknya cukup besar.

Kami pun melenggang menaiki tangga KM Binaiya dan langsung mencari tempat yang strategis. Hari itu kami tidak melewati garbarata, karena kapal berlabuh agak jauh dari pintu terminal.  Seperti perkiraan, kami langsung dapat deretan tempat tidur yang kosong. Namun  karena lokasinya yang kurang nyaman dan kami cukup percaya diri akan dapat yang lebih bagus, tempat tersebut kami tinggalkan. Dan benar saja, saat kami berpindah ke ruangan lainnya, dengan mudahnya kami dapat tempat yang cukup nyaman. Alhamdulillah yach. Ruangan tersebut hanya ditempati oleh beberapa orang dan tidak begitu jauh dari kamar mandi juga pantry. Satu deret tempat tidur yang berisi 7 kasur langsung berada di bawah kekuasaan kami 😀

 

Pukul 10 pagi KM Binaiya menarik sauhnya meninggalkan Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar. Dua jam lebih lambat dari jadwal yang seharusnya. KM Binaiya adalah salah satu dari 28 armada milik PT. Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI). Seperti nama-nama armada lainnya yang diambil dari nama bukit dan gunung di Indonesia, KM Binaiya juga diambil dari nama salah satu gunung di Pulau Seram, Maluku. Gunung ini adalah gunung tertinggi di Maluku dengan ketinggian 3.027 meter.  Kapal Binaiya dibuat oleh perusahaan Jerman pada tahun 1994 dan memiliki kapasitas penumpang sebanyak 970 orang. Binaiya termasuk kapal paling kecil di antara armada PELNI. Selain Makassar, KM Binaiya juga mampir di Pelabuhan Awerange Barru, Bima, Labuan Bajo, Semarang, Bontang, Sampit dan Pelabuhan Batulicin yang menjadi tujuan kami.

Batulicin, adalah kota pelabuhan di Kalimantan Selatan dan salah satu pintu untuk masuk ke Pulau Kalimantan via laut. Kalimantan sendiri adalah pulau terbesar ketiga di dunia dengan luas lebih dari 700 ribu kilometer persegi. Pulau ini  dimiliki oleh tiga negara, Indonesia  (73%), Malaysia (26%), dan Brunei (1%). Karena banyaknya sungai yang mengalir di pulau ini, Kalimantan juga terkenal dengan julukan “Pulau Seribu Sungai“. Namun, nama Kalimantan hanya digunakan di Indonesia, Brunei dan Malaysia menyebutnya Borneo yang konon berasal dari nama Kesultanan Brunei. Karena tujuan kami bukan hanya kota-kota di Indonesia, maka saya menamakan perjalanan ini #jelajahborneo bukan #jelajahkalimantan. #jelajahborneo menggantikan #tripmencarisultan, mengingat dua orang pencetusnya tak ikut serta di perjalanan ini. Kalaupun pada akhirnya bertemu sultan,anggaplah itu bonus, hehehe. Setidaknya ada 12 kota di  4 provinsi dan 3 negara yang masuk dalam itinerary #jelajahborneo.

Dari Makassar menuju Batulicin, KM Binaiya melayari Selat Makassar, selat yang terletak di antara Pulau Sulawesi dan Pulau Kalimantan. Konon selat ini memiliki kedalaman hingga 2000 meter. Dua kilometer brur! Kalau jalan kaki lumayan jauh, apalagi kalau menyelam 😛 Dan berlayar di Bulan Desember perlu persiapan ekstra. Desember adalah salah satu Bulan Monsun Asia, di mana gelombang air laut sebagian besar perairan Indonesia menjadi lebih tinggi dibanding bulan-bulan lainnya. Tak heran sejak meninggalkan Pelabuhan Soekarno – Hatta, kami betah untuk tinggal di dalam kapal. Tak tertarik untuk duduk-duduk, hangout di teras ataupun kantin kapal. Bahkan untuk shalatpun kami lakukan di wilayah kekuasaan kami.  Berbaring, makan, baring, tidur, sholat, kemudian baring, makan dan tidur lagi itulah aktifitas kami selama di atas KM Binaiya. Saat harus ke kamar mandi, kami serasa menjelma jadi drunken muster 😃

Dahsyatnya ombak Desember sukses membuat isi perut banyak penumpang tumpah ruah. Seingat saya, dalam sejarah perkapalpelnian saya, baru kali inilah saya melihat wastafel kapal pelni yang jorok se jorok-joroknya. Terberkatilah para ABK petugas kebersihan. Alhamdulillah, sejak melantik diri sebagai pajokka, saya selalu menyematkan jimat anti mabok di traveling kit saya. Jangankan naik kapal dengan ombak tinggi, ke Malino pun yang berjarak 2 jam dari Makassar, saya pasti membawanya 😛

Gelombang yang tinggi tidak hanya mempermainkan perasaan #eh isi perut tapi juga memperlambat jalannya kapal. Makassar – Batulicin yang menurut jadwal dan cerita beberapa penumpang di sebelah kami bisa ditempuh dalam waktu 20 jam, kali ini butuh waktu 24 jam. Beberapa hari sebelum membeli tiket kapal laut, seorang kawan memberi info kalau harga tiket pesawat Makassar – Banjarmasin tidak jauh beda dengan harga tiket kapal laut Makassar – Batulicin plus tiket bus Batulicin – Banjarmasin. ‘Bukan soal harganya, saya cari sensasinya, saya ingin punya banyak cerita’. Demikian saya menanggapi infonya. And I got what I looking for. Mabok!

 

 

Cost:
Taksi ke Pelabuhan Soekarno – Hatta, Makassar: 20K
Tiket KM Binaiya : 178K
Kopi + Burasa: 15K

 

9 Replies to “Semalam di Selat Makassar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *