Top Five Flores

Mau wisata dengan paket kumplit? Mau mendaki gunung, trekking ke lembah dan dilanjutkan melihat peninggalan sejarah bangsa plus menari bersama para ibu dan mengakhirinya dengan leyeh-leyeh di pulau? Kunjungilah Pulau Flores di Nusa Teggara Timur. Wisata gunung, pantai dan laut, sejarah serta budaya semua bisa dinikmati di pulau ini. One stop shop!

Desember 2014, bersama enam orang kawan, saya overland Flores selama dua minggu. Kami memulai perjalanan  dari Maumere di barat  lalu menyusuri tempat-tempat cantik Flores hingga Labuan Bajo di ujung timur.  Dua minggu adalah waktu yang sangat sedikit untuk mencicipi keindahan pulau ini namun cukuplah untuk menikmati lima tempat wisata terkece punya Flores. Saya menyebut lima tempat terkece berikut ini sebagai TOP FIVE FLORES

Danau Kelimutu

Danau ini terletak di Desa Pemo Kecamatan Kelimutu, sekitar lima puluh kilometer dari Kota Ende. Sesungguhnya Kelimutu adalah nama sebuah gunung berapi yang letusannya ratusan lalu membentuk tiga kawah di puncaknya dan akhirnya menjadi danau. Ketiga danau memiliki warna air yang berbeda. Karenanya juga dikenal dengan nama Danau Tiga Warna. Konon saat terbentuk, warna ketiga danau itu adalah merah, biru dan hijau. Namun seiring dengan berjalannya waktu warna danau selalu berubah. Dan menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika warna air danau berubah akan ada suatu kejadian besar.
Saat saya mengunjungi danau ini, salah satunya berwarna hijau tua, saking tuanya saya mengira airnya berwarna hitam. Sedang dua danau lainnya berwarna hijau muda seperti adonan dadar hijau.

 

Waktu terbaik untuk melihat danau ini adalah saat sunrise dan sunset. Jika ingin melihat sunrise sebaiknya menginap di Moni, kota kecil berjarak sekitar empat belas kilometer dari Kelimutu. Dini hari sekitar pukul empat, mulailah perjalanan ke Danau Kelimutu. Sebelum memasuki areal parkir, kita harus membayar biaya masuk sebesar lima ribu dan biaya parkir sepuluh ribu rupiah. Gunung Kelimutu termasuk salah satu Taman Nasional yang dikelola oleh Kementerian Kehutanan dan masuk di tingkatan ke III sehingga biaya masuknya tidak begitu mahal. O iya, tidak ada angkutan umum yang melewati jalur Moni-Kelimutu, sehingga kita harus menyewa mobil atau motor. Tahun 2014 biaya sewa mobil dari pukul tiga pagi hingga pukul sepuluh pagi sebesar tiga ratus ribu, sedangkan motor seratus ribu rupiah.
Dari parkiran kami harus trekking selama kurang lebih tiga puluh menit dengan jalanan yang awalnya datar dan agak menanjak di akhir.  Sambil menanti matahari terbit kami menghangatkan diri dengan menikmati kopi dan snack yang dijajakan di sekitar danau.

 

 

Rumah Pengasingan Presiden Pertama RI

Empat belas Januari tahun 1934 Kapal Jan Van Riebeeck milik VOC berlabuh di Ende, membawa salah seorang pemuda cakep yang menjadi tahanan Belanda.  Pemuda tersebut tidak hanya cakep namun juga cerdas dan sangat berapi-api jika berpidato. Gara-gara kecerdasannya ia diasingkan ke Kota Ende.

Usai menikmati sunrise di Danau Kelimutu kami melanjutkan perjalanan ke Ende. Jaraknya cukup dekat, sekitar lima puluh kilometer, namun karena jalanan yang berliku, perjalanan ditempuh selama kurang lebih dua jam dan sukses membuat isi perut berdansa ria.  Jalur Moni – Ende adalah salah satu jalur ekstrim di sepanjang Flores. Gunung batu dan jurang adalah pemandangan sepanjang jalan.  Konon kedalaman salah satu jurangnya mencapai satu kilometer, dalam bingits ya. Ah tapi, masih lebih dalam hati si doski 😛

 

Di Ende, kami mengunjungi salah satu situs sejarah yang masih terawat rapi, Rumah Pengasingan Sukarno. Rumah yang terletak di Jalan Perwira ini pernah ditinggali Sukarno selama empat tahun. Beliau tinggal bersama Inggit, sang istri, ibu mertua dan juga anak angkatnya.  Sekitar satu kilometer dari rumah ini terdapat Taman Renungan Bung Karno. Di taman ini terdapat patung Sukarno yang sedang duduk. Saat diasingkan, Sukarno kerap duduk dan merenung di bawah pohon sukun yang dulu tumbuh di taman ini. Pancasila yang menjadi dasar negara kita saat ini adalah salah satu hasil perenungannya.

 

Kampung Bena, Bajawa

Flores adalah salah satu pulau di Indonesia  yang masih memiliki peninggalan megalitikum. Beberapa di antaranya terdapat di Kabupaten Ngada. Kampung Bena salah satunya. Kampung ini berjarak sekitar sembilan belas kilometer dari Bajawa, ibukota kabupaten dan terletak di puncak bukit.  Di Bena terdapat sekitar empat puluh buah rumah panggung yang modelnya serupa. Rumah kayu beratap jerami dengan posisi saling mengelilingi. Di tengah-tengah kampung terdapat susunan bebatuan yang merupakan kuburan megalitikum yang awalnya saya pikir hanya bebatuan biasa sehingga saya mondar-mandir begitu saja tanpa permisi :D.  Konon kampung ini sudah ada sejak 1.200 tahun yang lalu. Selain kuburan megalitikum, juga terdapat beberapa pondok kecil beratap jerami yang biasa digunakan untuk menggantung hewan kurban saat pesta adat.

 

 

Beruntung bagi kami karena datang ke Bena saat menjelang akhir tahun, sehingga kami bisa menikmati upacara adat Reba. Reba adalah upacara adat yang bertujuan untuk melakukan penghormatan dan ucapan terima kasih kepada para leluhur dan juga untuk mengevaluasi kehidupan di tahun sebelumnya. Upacara ini biasanya berlangung selama tiga sampai empat hari.

Kampung Bena terletak di kaki Gunung Inerie, gunung berapi tertinggi di Pulau Flores. Untuk mencapai Bena kita harus menyewa kendaraan sendiri karena tidak ada angkutan umum yang melewati perkampungan ini. Tidak ada biaya masuk yang ditetapkan. Namun jika ingin memberi sumbangan, di pintu keluar kampung terdapat kotak sumbangan yang hasil sumbangannya akan digunakan untuk kegiatan sosial kampung.

 

 

Waerebo

Dari Bajawa kami melanjutkan perjalanan ke Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai. Di sini kami juga akan mengunjungi salah satu desa yang sejak tahun 2012 menjadi happening bingits di kalangan para traveler dan sangat instagramable.  Waerebo adalah sebuah kampung yang terletak di tengah-tengah lembah. Tahun 2012, Waerebo mendapat penghargaan tertinggi dari UNESCO untuk konservasi warisan budaya karena masih mempertahankan rumah adatnya, Mbaru Niang.  Mbaru Niang adalah rumah khas Manggarai berbentuk kerucut dengan ketinggian mencapai lima belas meter. Atap rumah ini merapat hingga beberapa centimeter di atas tanah sehingga juga berfungsi sebagai dinding. Dari luar, rumah ini nampak hanya satu lantai, namun sesungguhnya rumah ini terdiri dari lima lantai. Lantai paling bawah digunakan sebagai tempat tinggal, lantai dua sebagai tempat penyimpanan makanan sehari-hari, lantai tiga sebagai gudang benih tanaman, lantai empat untuk lumbung pangan jika terjadi kekeringan dan lantai paling atas digunakan untuk menyimpan sesajian kepada leluhur. Delapan buah Mbaru Niang menjadi penghuni Warebo dan posisinya yang setengah lingkaran menjadi view yang sangat cantik jika dilihat dari atas bukit.

 

Untuk melihat kampung cantik ini dibutuhkan sumber daya yang tidak sedikit. Tenaga, waktu dan finansial harus benar-benar disiapkan. Dari Ruteng kami harus berkendaraan sekitar lima jam dengan medan yang super ekstrim. Perjalanan akan berakhir di Desa Denge, desa terakhir yang bisa dijangkau dengan kendaraan.  Selain merental kendaraan, kita juga bisa menggunakan Otokol, yakni angkutan umum yang jamak di daratan Flores. Otokol ini adalah mobil truk berbak kayu yang dimodifikasi menjadi angkutan penumpang. Ongkos perpenumpang dari Ruteng ke Denge sebesar tiga puluh ribu. Dari Denge ke Waerebo masih berjarak sekitar 9 km, jarak yang sangat dekat jika ditempuh dengan kendaraan. Namun sembilan kilometer ini harus dilalui dengan berjalan kaki, jalan kaki yang tidak lurus-lurus dan datar-datar saja, namun kadangkala menanjak, menurun, melewati hutan bahkan beberapa anak sungai.  Saya yang bukan seorang pendaki, membutuhkan waktu sekitar empat jam untuk tiba di pintu gerbang Waerebo.

 


Ungkapan Long road to heaven nampaknya cocok untuk menggambarkan perjalanan ke Waerebo. Setelah bersusah-susah menempuh perjalanan panjang yang menguras waktu dan energi kami langsung disajikan pemandangan yang specta, udara yang segar, suasana syahdu dan rumah yang sangat nyaman. Tapi semuanya tidak gratis, hehehe. Sebelum memasuki rumah yang diperuntukkan untuk tamu, kami harus ke rumah yang paling besar. Di sini kami disambut oleh tetua adat dan memberi sumbangan sukarela. Selain sumbangan kami juga membayar uang kunjungan sebesar seratus ribu per orang. Uang kunjungan ini juga akan digunakan sebagai biaya makan siang kami di Waerebo. Bagi tamu yang menginap, biaya yang dikeluarkan adalah 250 ribu rupiah/orang/malam. Biaya lain yang dibutuhkan untuk sampai ke Waerebo adalah local guide yang mengantar dari Denge ke Waerebo hingga kembali ke Denge.

 

Pulau Komodo

 

Usai melatih otot kaki dengan trekking delapan belas kilometer di Waerebo saatnya melatih debaran jantung dengan bersenda gurau dengan Komodo, hehehe.

Jika di dunia fantasinya Steven Spielberg ada Jurassic Park dengan ratusan dinosaurusnya, di Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ada Taman Nasional (TN) Komodo dengan ribuan kadal raksasanya yang oleh masyarakat setempat disebut Ora. Kadal raksasa atau Ora atau Komodo ini digolongkan sebagai hewan purba dan hanya ada di Indonesia. Tak heran jika ditetapkan sebagai salah satu The New Seven Wonders of Nature di tahun 2012.

Untuk mencapai TN Komodo, kami harus  menyewa kapal di Labuan Bajo seharga Rp. 2.300.000. Harga ini termasuk biaya makan sebanyak dua kali dan kami diantar ke empat spot wisata; Pulau Padar yang merupakan spot foto sejuta umat, Pulau Komodo untuk melihat langsung si Ora, snorkeling di Pantai Pink dan ‘berburu’ manta di manta point.

Jika ingin melihat Komodo, pilihannya ada dua, di Pulau Rinca atau di Pulau Komodo. Kami memilih Pulau Komodo karena dekat dengan lokasi rumah pemilik kapal tempat kami menginap. Untuk masuk ke TN Komodo kami harus membayar tiket masuk dan juga menyewa ranger yang akan mendampingi selama trekking. TN Komodo tergolong TN kelas III yang HTMnya sama dengan Danau Kelimutu, yakni lima ribu rupiah namun karena hari libur kami membayar Rp. 8.750 plus ranger Rp. 80.000 Ranger ini mengantar kita trekking memasuki hutan sambil ‘mencari’ sarang komodo. Saat memulai trekking saya agak deg-degan, takut jika sang kadal tiba-tiba muncul di depan kami. Namun setelah bertemu langsung, ternyata hewan ini biasa aja tuh, doski malah terkapar melihat kami. Begitulah, don’t judge Komodo by its name 😀

Nah, setuju kan kalau Flores disebut one stop shop untuk liburan.

Mari kerja keras biar bisa nabung rupiah dan nabung cuti untuk liburan ke Pulau cantik Flores, karena konon belum sah jadi traveler jika belum berkunjung ke Pulau Flores, hehehe..

 

#AyokeIndonesiaTimur

8 Replies to “Top Five Flores

    1. sebelum ke sana toh, dumba2 ka’ juga, takut nda sampe di tujuan. Sampe kucari youtube-nya perjalanan ke Waerebo. Ternyata bisa ji, hehehe. Paling cepat bede 3 jam sampe mi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *