Blue Diamond Warisan Khilafah Utsmaniyah

blue
“Mintahlah kepadaKU, niscaya akan AKU kabulkan”. (QS; Al-Mu’min: 60)

Penggalan Surat Almu’min ini nampaknya menjadi senjata paling ampuh yang dipercaya oleh Sultan Muhammad II melebihi pedang dan tombak yang dimiliki belasan ribu pasukannya. Setelah lebih dari 50 hari berperang merebutkan Kota Konstantinopel dari Kaisar Byzantium, Constantine XI Paleologus, pada 29 Mei 1453 di hari ke-53 pertempuran, Sultan dari Dinasti Ustmani yang masih berumur 21 tahun ini memerintahkan kepada 15.000 pasukan yang dipimpinnya untuk melaksanakan Shalat Tahajjud, meminta kepada sang pemilik kekuatan, sang pemilik semesta untuk memberikan kemenangan kepada mereka. Dini hari usai bermunajat, belasan ribu pasukan Ustmani mengepung Kota Konstantinopel, dan sebelum bayangan Sultan Muhammad II tepat berada di bawahnya, Ibukota Byzantium tersebut, telah berpindah kekuasaan.

Usai menaklukkan Kontstantinopel, Sultan yang juga dikenal dengan nama Sultan Muhammad Fatih ini turun dari kudanya dan melakukan sujud syukur, lalu berjalan kaki memasuki pusat kota menuju Hagia Sophia, Katedral terbesar di dunia saat itu. Karena Constantine XI Paleologus menolak menyerahkan kota secara damai, Muhammad Fatih mengubah katedral yang megah tersebut menjadi Masjid Kesultanan Ustmani dan mangganti namanya menjadi Aya Sofia. Nama Konstantinopel pun diganti menjadi Istanbul yang berasal dari kata Islam-bul atau Tahta Islam dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Dinasti Ustmani atau Dinas Ottoman.

Sekitar seratus lima puluh tahun kemudian, sebuah Masjid yang sangat megah di bangun di tengah Kota Istanbul, tidak jauh dari Masjid Aya Sofia. Sedefkar Mehmet Aga, Arsitek yang ditunjuk Sultan Ahmed I, diminta memilih bahan-bahan terbaik, marmer terbaik demi mewujudkan mimpi sang Sultan. Money follow function, demikian kira-kira mandat yang diterima Mehmet Aga. Konon masjid ini dibangun untuk ‘menandingi’ kemegahan Aya Sofia. Masjid ini kemudian diberi nama Sultanahmet Camii (Masjid Sultan Ahmed), berukuran 73 x 65 meter dengan enam menara yang tingginya 64 meter, dan 30 buah kubah membuat masjid ini tampak megah dan menjadi bangunan kebanggaan Dinasti Ustmani saat itu. Pun kini, Sultahnahmet menjadi kebangaan warga Turki, menjadi masjid yang banyak dikunjungi tidak hanya muslim namun juga oleh pengunjung non muslim dari berbagai penjuru dunia.

Pagi 17 Juni 2012, Qatar Airlines QR 42 mendaratkan saya di Kemal Attaturk Internasional Airport. Alhamdulillah setelah terbang belasan jam, akhirnya saya menjejak juga daratan Eropa. Sebagai June person, saat itu saya merasa Juni 2012 adalah the best June ever in my life (halah). Pasalnya, saya akan menghabiskan separuh Juni 2012 di Benua Biru. Ya, saya diajak keliling Eropa oleh kakak sepupu saya selama sebulan. Dan diajaknya bukan basa-basi. Segala urusan yang berhubungan dengan uang rupiah, saya boleh tutup mata, tante #eh sepupu yang bayarrr! Alhamdulillah yah.. Daaaan, saya diminta menentukan kota mana saja yang akan kami singgahi, what a wonderful birthday gift! Jadilah saya menempatkan Istanbul sebagai kota pembuka yang manis dari hadiah ulang tahun ini. Kota yang telah ada sejak 600 SM.

Turun dari pesawat kami langsung menuju loket imigrasi, Alhamdulillah sejak Juni 2010 pemegang paspor Indonesia mendapat kemudahan untuk masuk ke Turki. Kami hanya perlu mengurus visa saat ketibaan di salah satu pintu masuk negara ini dan tidak perlu lagi mengurus visa di kedutaan Turki di Indonesia. Namun kebijakan ini berubah lagi di tahun 2014, diganti dengan visa elektronik (E-visa).
Setelah menukar visa Turki dengan 25 Euro dari dompet saya, dan mengambil bagasi, saya pun menuju loket shuttle bus. Kami memilih shuttle bus yang lebih murah dibanding taxi untuk menuju lokasi penginapan kami, Sultanahmet area. Area ini dinamakan sama dengan nama Masjid kebanggaan Turki karena letaknya tak jauh dari Masjid tersebut. Area ini menjadi wilayah turis paling ramai di Istanbul, one stop sighseeing area. Di sini kita bisa mengunjungi Aya Sofia, Istana Topkapi, dan Sultanahmed Camii tentunya. Ketiganya hanya dalam jarak walking distance.
IMG_9954
Dari bandara menuju Sultanahmet kami melewati tepi Laut Marmara. Setelah bermobil sekitar 25 menit, nampaklah dari jauh Sultanahmet Camii yang tegak berdiri di daerah yang agak berbukit. Enam menaranya yang kokoh, membuat masjid ini nampak cantik dan megah. Jumlah menara yang enam ini sempat mendapat dari Sultan di Saudi karena jumlahnya yang sama dengan menara di Masjidil haram saat itu. Sultan Ahmed I menengahinya dengan membiayai penambahan menara ke-7 di Masjidil haram.

Ah, rasanya ingin cepat-cepat masuk ke dalamnya dan menikmati cantiknya interior sang masjid yang selama ini jadi wallpaper computer saya.
Usai check-in hotel dan mengisi kampung tengah, kami langsung menuju Sultanahmet Camii yang berjarak sekitar 15 menit jalan kaki dari penginapan. Kami tak merasakan jetlag sama sekali, mungkin sudah disegarkan oleh makanan Turki yang enak tadi, hehehe.. Kami masuk melalui pintu Selatan, konon saat Istanbul masih di bawah kekuasaan Dinasti Ustmani, di salah satu pintu dipasang sebuah rantai yang menjuntai. Tujuannya adalah agar saat sang Sultan yang selalu datang ke Masjid dengan berkuda menundukkan kepalanya, sebagai simbol tunduk kepada sang maha pencipta.

Masjid telah ramai oleh pengunjung, tidak hanya yang ingin melaksanakan shalat, namun juga turis yang ingin melihat kemegahannya. Masjid ini dibuka sejak jam 9 pagi hingga 5 sore untuk wisatawan, namun bagi yang ingin melaksanakan shalat, masjid ini terbuka sepanjang waktu. Di bagian pintu masuk ada beberapa orang penjaga yang mengontrol pengunjung yang ingin masuk. Kaum wanita harus berbaju panjang dan menggunakan kerudung, sementara bagi pria harus bercelana panjang. Di pintu masuk juga ada sebuah mesin yang mengeluarkan kantong plastik untuk membungkus sepatu atau sandal sebelum dititipkan di loker.

Mozaik dalam Masjid Biru
Mozaik dalam Masjid Biru

Begitu memasuki masjid, mata saya langsung tertuju ke langit-langit masjid yang sangat mempesona. Lengkungan-lengkungan kubah dihiasi dengan kaligrafi dan mozaik yang dominasi dengan warna putih dan biru. Beberapa kaligrafi bertuliskan nama Nabi Muhammad dan para Khalifah. Di tengah masjid tergantung sebuah rangka lampu yang ukurannya cukup besar dan dihiasi dengan ratusan bola lampu. Di Sebelah kanan mihrab terdapat mimbar, dan di sudut tenggara terdapat ruang kecil yang dulu menjadi tempat sang Sultan. Interior masjid terdiri dari 20.000 keramik berwarna biru, karenanya masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Biru, terutama di kalangan turis.
Pikiran saya langsung berpindah ke empat ratus tahun yang lalu saat masjid ini dibangun tahun 1610, betapa hebat sang arsitek bisa menerjemahkan cita rasa yang tinggi dari Sang Sultan. Tak bisa dipungkiri masjid ini adalah salah satu yang termegah di dunia hingga kini.
Permadani lembut, berwarna merah menambah megahnya suasana dalam masjid, membuat saya betah untuk berlama-lama di dalamnya. Tiga hari kunjungan kami di Istanbul separuhnya dihabiskan di masjid ini, sampai-sampai kami melewatkan kunjungan ke Istana Topkapi.

Pintu masuk ke dalam Masjid
Pintu masuk ke dalam Masjid

Semoga masjid yang telah menjadi saksi sejarah sejak zaman keemasan Dinasti Ustmani hingga masa kekuassan Kemal Attaturk yang mengubah Turki dari negara muslim menjadi negara atheis bahkan pernah mengubah fungsi masjid ini menjadi gudang, tetap kokoh, menawan dan menarik hati para perindu masjid dari berbagai dunia hingga akhir zaman.

IMG_7839

Referensi:
1. Dari Puncak Baghdad, Sejarah Dunia Versi Islam, Tamim Ansary
2. Api Tauhid, Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujaddid, Habiburrahman El Shirazy
3. Wikipedia

3 Replies to “Blue Diamond Warisan Khilafah Utsmaniyah

  1. Wahhh complete ceritanyaa kak, mulai diawal tentang sejarahnya sampai itennya menuju kesana, tapi msh ingat ya sampe2 nomor flightnya jg, padahal kejadiannya udh 4 thn yg lalu (a good database )

    1. Itu karena ingatanku kuat, hehehe..
      Becanda, ndak sedetail itulah ingatnya. Semua ini dibantu sama inovasi yang namanya foto. Boarding pass dengan nomor flight, fotonya masih tersimpan rapi, hihihi. Dan sesungguhnya untuk Istanbul sudah pernah saya tulis di sini, jadi ada contekannya sedikit 😉

  2. Menulis adalah untuk menjadi laci atas apa2 yg kita alami. Membuatnya menjadi abadi. Sambil mengingati perasaan kita di masa dulu. Nice writing Sist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *