Taj Mahal, tetesan air mata pada wajah sangkala

The beautiful me #eh The Beautiful Taj Mahal
The beautiful me #eh The Beautiful Taj Mahal

Masha Allah..
Tubuh saya refleks merinding setelah melihat pemandangan di seberang sana, pemandangan ketika saya baru memasuki gerbang. Saya terpana. Saya terharu. Saya serasa berada di surga. Okeh, saya lebay. Saya belum pernah ke surga. Tapi sumpah! Saya benar-benar takjub melihat bangunan megah berwarna putih, berdiri kokoh di ruang terbuka berlatar langit laksana sebuah lukisan. Langit biru yang siang itu benar-benar bersih menambah kemegahan sang bangunan. Travel mate saya sampai mengeluarkan pertanyaan bodoh, “betulan kah ini?”. Pantaslah bangunan ini dijadikan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Bangunan yang pada masa kecil saya, saya sangkanan sebuah masjid. Taj Mahal memang benar-benar cantik, benar-benar anggun, megah, sempurna. Ah, saya tidak tahu kata apalagi yang cocok untuk menggambarkan keindahannya.

Mata saya yang masih mata panda, langsung berbinar siang itu. Padahal saat di kereta tadi saya masih terkantuk. Ya, hari itu kami harus bangun lebih awal dan subuh-subuh berangkat ke stasiun demi menunggu kereta yang akan membawa kami ke Agra. Selama di India, kami sering kali menghabiskan waktu di stasiun, berjam-jam. Kami butuh waktu yang lebih untuk mencari dan mencocokkan gerbong dan peron, mengingat stasiun di India yang cukup besar dan sangat ramai. Lebih baik menunggu daripada pacar ketinggalan kereta. Perjalanan dari Delhi ke Agra bisa ditempuh dalam 3 hingga 4 jam, jarak yang lumayan dekat ini, menyebabkan banyak Agen tur yang menawarkan one day trip ke Agra. Berangkat subuh dari Delhi dan balik lagi sore harinya. Namun kami ingin yang berbeda. Kami ingin merasakan bermalam di Agra, kami ingit melihat sunset di Taj Mahal.

Taj Mahal yang Megah
Taj Mahal yang Megah

Agra, adalah salah satu kota di India yang menjadi tujuan para wisatawan. Konon, ini konon yaa… belum sah jadi backpacker jika belum ke India dan tak akan sah ke India jika tidak menjejak Taj Mahal, hehehe. Kota ini adalah salah satu kota bersejarah di India karena memiliki beberapa peninggalan masa kerajaan dahulu kala, salah duanya adalah Taj Mahal dan Benteng Agra. Kota ini seperti punya magnet, menarik wisatawan datang dari berbagai penjuru dunia. Saya salah satu yang ditarik oleh magnet itu. Magnet yang berwarna putih dengan kubah yang megah. Tertarik melihat sebuah simbol cinta yang agung, Taj Mahal.

Suatu hari, Pangeran Khurram, cucu Jalaluddin Akbar (The Great Akbar) dan Ratu Jodha berjalan-jalan menyusuri Meena Bazaar. Ia tiba-tiba berhenti di depan penjual kain sutera dan manik-manik kaca. Bukan, ia bukan hendak membeli kain sutra ataupun manik kaca, ia berhenti karena terjatuh, jatuh hati pada gadis sang penjaja kain. Love at the first sight kata orang-orang masa kini. Sang gadis, Arjuman Bano Begum, adalah putri dari Abdul Hasan Asaf Khan, seorang bangsawan Persia. Namun karena Arjuman saat itu baru berusia 14 tahun, Pangeran Khurram l harus bersabar selama lima tahun untuk menikahinya. Sebelum dengan Arjuman, Sultan telah memiliki dua orang istri, namun Arjuman adalah istri yang paling dicintainya.

Salah satu pintu gerbang Taj Mahal
Mozaik cantik di salah satu pintu gerbang Taj Mahal

Enam belas tahun setelah pernikahan mereka, Pangeran Khurram yang bernama lengkap Shahabuddin Muhammad Shah Jahan I, naik tahta menggantikan ayahnya, Jahangir, yang meninggal dunia dan menjadi Sultan Mughal yang ke-5. Mughal adalah kesultanan yang didirikan pada tahun 1526. Pada masa jayanya, Mughal memerintah Afganistan, Balochistam (kini bagian dari Pakistan ) dan sebagian besar India.

Arjuman tidak hanya menjadi istri Shah Jahan, namun juga menjadi penasehat kerajaan, karenanya ia diberi kepercayaan memegang stempel kerajaan. Ia selalu mendampingi Shah Jahan, tak hanya saat berada di istana, namun juga saat bepergian ke luar kerajaan. Sang sultan memberinya nama kesayangan “Mumtaz Mahal” yang berarti Permata Istana. Tahun 1630 dalam kondisi hamil, Mumtaz mendampangi Shah Jahan yang berjuang di dataran tinggi Deccan dan mendapat firasat bahwa ini adalah perjalanan terakhirnya bersama sang sultan. Benar saja, Mumtaz Mahal berpulang ke rahmatullah meninggalkan sang kekasih hati saat berjuang melahirkan anak mereka yang ke-14. Ia mendampingi Shah Jahan selama 19 tahun dan meninggal dalam usia yang cukup muda, 38 tahun. Sebelum kepergiannya, Mumtaz meminta suaminya untuk tidak menikah lagi sepeninggalnya.

Shah Jahan sangat terpukul dengan kematian Mumtaz. Konon, karena rasa sedih yang mendalam, rambut sang sultan memutih hanya dalam semalam. Sebagai rasa cintanya ia membangun sebuah monumen untuk mengenang sang istri. Tempat sang kekasih hati bersemayam. Ia mengumpulkan 20.000 perkerja yang terdiri dari tukang batu, tukang emas dan tukang ukir yang termahsyur di dunia saat itu. Shah Jahan menggunakan sebagian besar harta kerajaan untuk membangun monumen ini. Butuh waktu 22 tahun untuk menyelesaikannya. Monumen dengan sebuah kubah dan empat minaret yang semuanya berwarna putih karena terbuat dari marmer putih. Belasan tahun berlalu, namun rasa sedih tak berlalu dari diri Shah Jahan. Ia pun berencana membangun Taj Mahal lainnya yang berwarna hitam, untuk menunjukkan rasa sedihnya pada dunia. Bangunan ini akan dibuat di sebelah Taj Mahal putih dan akan menjadi tempat peristirahatan terakhirnya kelak saat ia wafat. Namun Aurangzeb, anak Shah Jahan, menggagalkan rencana sang ayah karena ingin menyelamatkan harta kerajaan.

Masjid yang terletak di dalam kompleks Taj Mahal
Masjid yang terletak di dalam kompleks Taj Mahal

Karena kemegahan dan sejarahnya, tahun 1983, UNESCO menetapkan Taj Mahal sebagai salah satu warisan dunia. Pemerintah India pun membukanya sebagai salah satu tujuan wisata yang setiap tahun dikunjungi hingga 3 juta wisatawan, dua kali lipat dari jumlah warga Agra. Seperti tempat-tempat wisata dunia pada umumnya, loket tiket Taj Mahal terbagi dua, satu untuk warga lokal dan satu untuk warga asing. Tiket untuk warga asing sebesar 1000 Rupe (Rp. 198.000) dan lokal 40 Rupe (Rp.8.000). Saat antri di loket turis asing, saya diminta pindah ke loket turis lokal, Bapak petugas tiket mengira saya warga lokal, mungkin wajah saya mirip orang Persia jadi nampak seperti Mumtaz 😛 Setelah menjelaskan bahwa saya bukan warga India, Bapak petugas pun memberikan tiket dan sebotol air mineral dan kantong tissue untuk membungkus sepatu. Saat memasuki bangunan utama Taj Mahal, pengunjung harus melepas alas kaki atau membungkusnya dengan kantong tissue tadi.

Taj Mahal dibangun di atas lahan yang cukup luas, di depannya terdapat beberapa air mancur, ciri khas bangunan Islam pada masa lampau. Di sisi kiri dan kanannya terdapat dua bangunan serupa yang berwarna merah. Bangunan di sebelah kanan adalah sebuah masjid dan di sebelah kira biasa digunakan sebagai wisma bagi tamu negara yang datang berkunjung. Di belakang Taj Mahal mengalir Sungai Yamuna dan tak jauh dari Taj Mahal terdapat Benteng Agra yang dulu merupakan salah satu istana Shah Jahan. Dalam benteng ini terdapat sebuah penjara. Tahun 1658 Aurangzeb merebut kekuasaan dari tangan sang ayah dan “memenjarakannya” di Benteng Agra.

Sarkofagus Shah Jahan dan Taj Mahal
Sarkofagus Shah Jahan dan Mumtaz Mahal (foto: duniatimteng.com)

Tahun 1666 saat Shah Jahan meninggal dunia, Aurangzeb membawa jenazah sang ayah dari Benteng Agra melalui Sungai Yamuna dan menguburkannya tepat disamping sang ibunda. Kini, saat kita mengunjungi Taj Mahal kita akan melihat dua Sarkofagus. Sarkofagus Mumtaz terletak tepat di tengah, namun letak sarkofagus Shah Jehan tidak simetris, ini dikarenakan saat pembangunan Taj Mahal hanya dibuat untuk Mumtaz Mahal.

Kalau saat masuk ke kompleks Taj Mahal tadi saya sempat terharu karena kemegahannya, saat keluar perasaan saya berubah 180 derajat, saya justru menjadi sedih. Saya membayangkan sang sultan, berdiri di depan jendela yang berjeruji, menghabiskan masa tuanya dengan menatap ke bangunan megah di seberang, monumen yang dibangunnya. Selama 8 tahun ia menatap Taj Mahal yang indah, bangunan tempat sang kekasih hati berbaring menanti kedatangannya.

Benarlah kata Rabindranath Tagore, seorang Filsuf India, Taj Mahal laksana tetesan air mata pada wajah sangkala.

Taj Mahal dari arah Sungai Yamuna
Taj Mahal dari arah Sungai Yamuna

Referensi :
1. Lonely Planet : Discover India
2. tajmahal.gov.in
3. Wikepedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *