Funtastic sixteen

The more the merrier, demikian kata orang luar sana. Semakin banyak semakin meriah. Enam belas orang. Enam belas kepala. Enam belas mulut. Enam belas hati. Enam belas rasa. Enam belas pasang kaki tangguh. Tapi punya satu mimpi yang sama.
Sama-sama bermimpi bisa menjelajah Pulau Sumba yang eksotik..
Sama-sama bermimpi bisa menjejak Pulau Sumbawa yang cantik..

Kami dipertemukan di komunitas pejalan, Makassar Backpacker. Beberapa orang di antara kami sudah pernah melakukan trip bersama. Beberapa lainnya baru kenal, bahkan ada yang baru berjumpa sesaat sebelum kami meninggalkan Makassar. Saat melempar ajakan JelajahSumba[wa] di Page Makassar Backpacker, saya tidak pernah menyangka akan banyak yang menyambut uluran tangan ajakan trip bersama ini, mengingat agak susah mencari orang yang punya waktu libur selama dua minggu. Saat Jelajah Flores akhir tahun 2014 lumayan banyak yang menyatakan ikut namun satu persatu gugur sebelum berangkat dan hanya tertinggal 7 orang. Suksesnya Jelajah Flores tahun lalu mungkin salah satu pemicu banyaknya peminat JelajahSumba[wa] ini.

Dua minggu bersama-sama. Hidup dengan 16 karakter. Ada yang kreatif, ada yang suka berdendang , ada yang suka masak, ada yang baru pertama kali naik truk, ada yang sehari omongannya bisa dihitung jari, ada sukanya motret saja, ada yang ria jenaka, dll, dsb, dkk. Bersama-sama selama 24 jam, tentu banyak cerita, banyak kisah. Tak hanya tawa namun kadang-kadang juga muncul rasa sebal, letih, lesu, lemah dan loyo. Namun semuanya sabar dan tabah, bisa tidur dan makan di mana saja. Padahal ada yang baru pertama kali traveling dengan cara backpacker. Dan Alhamdulillah perjalanan ini berakhir dengan sukses. Sukses mengunjungi 9 destinasi dari 13 yang direncanakan, dan mendapat bonus 5 destinasi. Sukses menghabiskan dana 1,7 juta dari 1,8 yang dibudgetkan. Daaaaan yang terpenting sukses menambah koleksi kawan bahkan saudara baru, menambah lembaran cerita perjalanan hidup (halah)

Berikut ini teman-teman seperjalan saya selama menjelajah Pulau Sumba dan Sumbawa. Saya menyebutnya Funtastic sixteen! Karena mereka benar-benar Fun dan Fantastic!

Haris
Haris

Haris, demikian namanya lengkapnya, namun kami memanggilnya Babel, calon pemegang dua titel kesarjanaan. Di sela-sela kesibukan menjadi mahasiswa semester banyak di dua instansi kampus di Makassar serta karyawan sebuah konveksi, doski selalu menyempatkan untuk backpacking dan mendaki gunung. Kalau melihat kesibukannya, kadang saya tidak percaya, kalau anak ini sudah menaklukkan beberapa gunung tertinggi di Indonesia.

Saya mengenalnya pertama kali pada saat Jelajah Flores tahun 2014 dan setelah itu kami pernah melakukan short trip bersama ke Bulukumba dan Sinjai di Sulawesi Selatan. Sejak mengenalnya, urusan pertendaan setiap trip, akan beres di-handle olehnya. Selain backpacknya yang cukup besar, Babel juga membawa dua tenda untuk kemi gunakan selama di Sumba dan Sumbawa. Bawaan yang tidak sebanding dengan perawakannya yang kecil. Helpful, kocak, apa adanya, demikian Babel di mata saya. Ada saja yang selalu menjadi bahan candaannya.ย Selama JelajahSumba[wa], setiap malam Babel sering menjadi orang terakhir yang terlelap. Entah karena mau menjaga kami atau karena mengidap imsonia.
Saat akan ke Pulau Moyo, kapal yang akan kami tumpangi berlabuh di Pelabuhan Badas. Untuk naik ke kapal agak susah karena jarak dari tempat berlabuh dengan bebatuan yang jadi pijakan kami cukup tinggi, dan lagi kapal tidak memiliki tangga. Babel langsung menyodorkan pahanya untuk dijadikan tangga. Kaki-kaki kamipun berpindah dari batu ke paha dan ke buritan kapal. Ah, tertanya hatinya jauh lebih besar dari postur tubuhnya. Selain sibuk menyelesaikan tugas utama sebagai mahasiswa, katanya saat ini dia juga sibuk memantaskan diri untuk cinta yang berkualitas, hehehe..
Doa kami bersamamu, Bro!

Srisulastri Caronge
Srisulastri Caronge

Karena tergiur dengan itinerary JelajahSumba[wa], perempuan pemegang sabuk putih #eh gelar master accounting ini harus melanggar sumpahnya. Gara-gara pengalaman kurang menyenangkan saat backpacking ke Lombok dan tanah Jawa di tahun 2014, ia berjanji tidak lagi mau menggunakan jasa Kapal Pelni. Srisulastri Caronge, demikian nama lengkapnya, seorang pengajar di salah satu SMK di Kota Makassar. Kami memanggilnya Lastri namun kadang-kadang juga memanggil Bu Guru. Meski sudah bergelar Ibu Guru, doski masih dikenai jam malam di rumahnya ๐Ÿ˜› Setiap pagi ia harus bertemu dengan nasi. Sebanyak apapun kue yang dimakannya, ia tetap akan mencari nasi. Benar-benar orang Indonesia tulen. Karenanya di setiap pagi JelajahSumba[wa], ia selalu nongkrong di depan kompor, mempersiapkan sarapan paginya.

Berbeda dengan traveler pada umumnya, yang selalu mencari makanan khas kota yang disinggahi, Lastri justru mencari bakso. Gara-gara bakso pula, ia pernah hampir berpisah dari rombongan. Saat turun dari fery di Sape, Pulau Sumbawa, sesuai kesepakatan kami langsung menuju bus yang akan mengantar ke Kota Bima. Namun Lastri dan seorang teman lainnya tidak menuju bus, tapi justru mencari bakso, nampaknya ia sakaw, karena sudah lima hari ia tak bertemu bakso. Mungkinkah waktu kecil dulu ia yang menyanyikan lagu abang tukang bakso yang masyhur itu?

Muhammad Syaiful Latif
Muhammad Syaiful Latif

 

Ternyata hijau ji pale ini Flores dih, ndak tandus seperti yang sering diberitakan di tv. Ungkap seorang anak muda saat melintasi hutan-hutan di sepanjang perjalanan Maumere โ€“ Ende. Muhammad Syaiful Latif, demikian nama sang anak muda yang lebih senang dipanggil Bebs Ipul bukan Syaiful apalagi Latif. Seorang mahasiswa Pertambangan semester akhir di Universitas Muslim Indonesia (UMI), salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Makassar.

Tak hanya Babel, Ipul juga sering menjadi orang terakhir yang terjaga di setiap malam-malam JelajahSumba[wa]. Bukan untuk menjaga keamanan, tapi untuk melakukan daily report ke Makassar. Entah kenapa laporannya harus di penghujung malam. Mungkinkah doski memanfaatkan paket telepon murah yang biasanya baru mulai di tengah malam? Atau harus menunggu kami semua terlelap karena ada yang sangat rahasia? Entahlahโ€ฆ Tak heran Ia selalu jadi orang yang terakhir bangun di setiap pagi, itupun harus digedor-gedor dulu. Selain mau melihat cantiknya Pulau Sumba dan Sumbawa, ada misi lain yang ingin dicapai pemuda ini. Misi menurunkan berat badan! Kalau boleh jujur, anak ini memang paling chubby di antara kami. Apa daya, misi mulia ini tidak tercapai. Jadwal makan di JelajahSumba[wa] yang tiga kali sehari, lebih teratur dibanding jadwal makan di kosannya di Makassar, hehehe.

Nur Sudibyo
Nur Sudibyo

Lelaki brewok pemilik tetangga Candi Borobudur ini merantau ke Sulawesi Selatan sejak tiga tahun lalu dan merasa menyesal karena terlambat bertemu dengan orang-orang kece seperti kami, rombongan jelajah Sumba[wa], hehehe. Doski yang biasa dipanggil Dibyo ini tinggal dan bertugas di Bantaeng, salah satu kabupaten di Selatan Provinsi Sulawesi Selatan, sekitar 3 jam dari Makassar. Meski bekerja di salah satu proyek Kedutaan Amerika, doski mau ikut backpacking, ber-hitchhike, berpeluh dan bersusah-susah bersama kami menjelajah Sumba dan Sumbawa.

Ini adalah trip pertama saya dengan Nur Sudibyo, demikian nama lengkapnya. Mengenalnya seminggu sebelum JelajahSumba[wa]. Saya menyebutnya Macgyver. Saat berangkat dengan Kapal Pelni dari Makassar ke Maumere, kami mendapat anugerah nginap di first class padahal kami adalah penumpang kelas ekonomi. Namun anugerahnya tanggung (atau kami yang ngelunjak?!?), kami cuma diberi kamar dengan dipan tanpa kasur. Dengan gunting serba guna yang dibawa Dibyo, kami akhirnya bisa tidur lebih nyaman di atas kasur. Toilet dalam kamar kelas satu ternyata menjadi tempat penyimpanan kasur, namun pintunya dikunci rapat. Berkat keisengan si Macgyver, jadilah siang sebelum kapal berlabuh, kami mendapat kultum dari ABK, hehehe..

Noer Halimah
Noer Halimah

Nama lengkapnya Noer Halimah, namun ia minta dipanggil Isma. Berdarah Bugis dan tinggal di Kota Pangkep. Pemburu beasiswa yang pernah sukses tinggal di negeri Taj Mahal mengikuti short course selama 6 bulan. Tak heran kalau ia seorang penggemar berat film dan lagu-lagu India. Isma bahkan cukup mahir menyanyikan beberapa lagu India dengan fasih. Meski berbadan agak ringkih, doski cukup tangguh memanggul backpacknya yang lumayan besar. Aktifitasnya sebagai guru di salah satu pesantren di Pangkep, tidak menghalangi hobi backpackingnya.

Seingat saya, selama JelajahSumba[wa], Isma adalah orang yang paling rajin duduk di depan kompor, paling rajin masak. Masak di โ€œdapurโ€ kami sendiri ataupun numpang di dapur orang lain. Ia juga paling perhatian. Saat jam makan tiba, Isma akan sibuk memanggil semua orang untuk sama-sama menikmati masakannya. Kami pun memanggilnya mamah Isma, dan ia cukup nyaman dengan gelar baru ini. Mungkin karena memiliki beberapa kelebihan, jago bahasa Inggris, jago tilawah dan jago nyanyi, kadang-kadang si mamah suka tidak focus. Sekali waktu ia memasak sayur namun tiba-tiba harus ke ke kamar mandi. Saat kembali tiba-tiba ia nyeletuk, โ€œsayur ini sudah dikasi sisir kah?โ€ gubrakksss… Sejak itu saya mulai ragu, jangan-jangan berat badan Ipul tak berhasil turun, karena ada bumbu special di setiap masakan mamah Isma ๐Ÿ˜€

Ichwan Rachman
Ichwan Rachman

โ€œIchwan foto kaโ€™ dulueโ€
Permintaan ini sering sekali bergema selama JelajahSumba[wa]. Keluar dari mulut para gifo (gila foto). Ichwan ini memang memiliki taste yang bagus untuk urusan foto. Dia pandai meletakkan obyek fotonya di posisi yang tepat, mungkin karena saat di SMA anak ini pernah dapat posisi terbaik, duduk di kelas akselerasi. Hehehe, ini mungkin yaaa, mungkiiin ๐Ÿ˜‰
Mengenalnya pertama kali saat short trip berburu durian dan cakar (pakaian second hand) ke Majene, Maret 2015. Kami sama-sama penggila durian, apalagi durian gratis, hehehe..

Ichwan Rahman, mahasiwa Psikologi Universitas Hasanuddin ini adalah adik bungsu di JelajahSumba[wa], peserta paling belia. Selama JelajahSumba[wa], si belia ini paling banyak meraup pahala. Ia sering dijadikan bahan candaan. Penghibur di sela-sela menunggu mobil tumpangan. Penghibur di sela-sela antrian kamar mandi. Syukurnya candaannya tak sampai membuatnya baper. Entah karena memang ndak memiliki perasaan atau memang hatinya sudah kebal. Hehehe..

Sumber pahala lain yang dimiliki Ichwan adalah Stiker kecil berwarna kuning yang dibawanya dari Makassar. Bersama Andhy, ia membuat stiker motivasi. Setiap bertemu anak-anak, Ichwan menanyakan cita-cita mereka lalu menuliskannya di stiker dan meminta mereka untuk menyimpan stiker tersebut di tempat yang paling sering dilihat agar selalu termotivasi. Ide yang keren dan cerdas kan?! Ah, wajar saja anak ini dulunya duduk di kelas akselerasi ๐Ÿ˜‰
Meskipun paling belia, lagu-lagu yang ada di playlist handphone-nya tidak menggambarkan usianya. Lagu yang sering tiba-tiba dinyanyikan tanpa peduli sedang berada di mana. Saya curiga playlist yang dibawa adalah milik pamannya ๐Ÿ˜€ Selain earphone, kaos kaki adalah benda yang tidak pernah lepas darinya. Bersepatu, bersandal, bercelana panjang, bercelana pendek, kaos kaki selalu menempel di kaki Ichwan. Bahkan saat tidur di truck dan bersebelahan dengan sapi pun, Ichwan masih memakai kaos kaki.

Erni Penyet
Erni Penyet

Menangis ki Kak Erni“, suatu malam tiba-tiba Ipul menyampaikan berita. “menangis? Masa sih?” tanya saya. “ku liat ki waktu antri kamar mandi“, jawab Ipul. “Mungkin sakit perut, kebelet ki, mau pup, tapi antri kamar mandinya lama“. Saya coba menyembunyikan rasa kaget dengan menjawab sekenanya. “Serius Kak” timpal Ipul lagi. Belakangan kami tahu, ternyata malam itu ada kabar dari kampung halaman yang diterima Erni. Kabar urusan hati yang tidak menyenangkan, yang mendesak air matanya untuk keluar.

Erni Penyet, demikian namanya di Sosial Media, hingga sekarang saya tidak tahu apakah perempuan ini punya hubungan dengan ayam penyet ataupun tempe penyet, hehehe. JelajahSumba[wa] adalah perjalanan kedua saya dengannya. Medio 2015 kami sama-sama mengunjungi Kota Sorowako di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Selama Jelajahsumba[wa], dia sering menjadi orang terakhir yang mendapat antrian mandi dan orang terakhir yang naik ke mobil karena sering menghilang. Mungkin namanya harusnya Erni Lelet bukan Erni Penyet :p Di Jelajahsumba[wa] beberapa kali Erni berpisah dengan rombongan, dia sering mencari penduduk lokal untuk diajak ngobrol. Ngobrol pake lama. Mungkin terbiasa dengan pekerjaannya di dunia pemberdayaan masyarakat.

Selain jago menghilang, Erni juga jago bikin sambal. Saat camping di Pulau Kanawa, ia dengan ikhlas membuatkan sambal untuk ikan yang dibelinya dari seorang ibu penjaga pulau untuk makan malam kami. Sambal yang ternyata saaangat pedas, sampe-sampe beberapa kawan berteriak protes. Ternyata sambal pedas itu adalah penyaluran air mata yang didesak keluar saat antri kamar mandi ๐Ÿ˜€

Sahidin Samsumar
Sahidin Samsumar

Meskipun sudah berteman cukup lama di Facebook, sama seperti Dije, kami baru bertemu sejam sebelum keberangkatan ke Pulau Flores. Kami memanggilnya Sahid, seorang tour leader yang nyambi sebagai mahasiwa Jurusan Komunikasi di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Makassar. Berdarah Bugis namun berdomisili di Toli-toli, Sulawesi Tengah. Meski berperawakan kecil, salah satu dari dua tenda yang dibawa Babel, selalu berada di punggungnya. Selama JelajahSumba[wa] ia menjadi pemulung, mengumpulkan kantong plastik sisa belanja dari teman-teman. Dilipat serapi mungkin dan disimpan baik-baik. โ€œPasti nanti dibutuhkanโ€ katanya. Benar saja, saat kami butuh kantong plastik, orang yang akan dicari adalah Sahid. Mungkin karena terbiasa memimpin tour, Sahid jadi tahu hal-hal kecil yang biasa terjadi selama traveling. Mau nonton Moto GP di Sepang Kuala Lumpur? Kontaklah Sahid. Doski orang yang cocok diajak ngobrol soal ini.

Muhammad Taufik Syam
Muhammad Taufiq Syam

 

Nama bekennya Ophec, nama lengkapnya Muhammad Taufik Syam. Saya mengenalnya saat sama-sama overland ke Flores selama 14 hari di tahun 2014. Di mata saya, Ophec seperti doraemon, memiliki kantong ajaib. Kantong yang bisa mengeluarkan apa saja. Butuh pisau? payung? Korek? Tusuk gigi? Mintalah sama Ophec. Ia pasti punya. Di akhir Jelajah Flores, saya baru tau kalau ia aktif di SAR (Search and Rescue). Karenanya ngetrip bareng dia pasti aman. Saya menyebutnya Dentoa (Daeng Toa, kakak tertua). Meski berusia mahasiswa, minumannya kopi hitam pekat, rokoknya pun tembakau. Saat teman-teman lain berburu oleh-oleh kain tenun di Pasar Waingapu, Ophec justru membeli tembakau.

Namun ada yang berubah dari anak ini. Selama JelajahSumba[wa], ia lebih pendiam, hanya beberapa kali saya mendengarnya berbicara. Makan pun demikian, harus dibujuk rayu dulu. Di waktu lowong, ia memilih tidur dibanding ngobrol hahahihi dengan teman-teman lainnya. Padahal saat Jelajah Flores, ia cukup โ€˜gilaโ€™, ikut melompat saat kami berfoto lompat, ia juga cukup aktif ngobrol bahkan kadang-kadang mengeluarkan joke . Ah, mungkin ia sedang bermetamorfosa.

Ririz Rizkiyana Pratmawaty
Ririz Rizkiyana Pratmawaty

โ€œKak, kalau kapalnya sudah mau jalan, info kaโ€™ nahโ€. Demikian pesan singkat Ririz ke handphone saya, dua jam sebelum Kapal Lambelu, kapal yang akan kami tumpangi ke Maumere, meninggalkan Makassar. Pesan yang aneh. Padahal sesuai kesepakatan, kita akan berkumpul di Pelabuhan Sukarno-Hatta Makassar, dua jam sebelum jadwal keberangkatan. Karena penasaran, akhirnya saya menelponnya untuk memastikan apa maksud pesan singkatnya. Dan ternyata doski masih di Bandara Sukarno Hatta, Jakarta. Ketinggalan pesawat bow!

Malam itu untuk pertama kalinya dalam sejarah per-kapalpelnian, saya berharap moda transportasi laut milik pemerintah ini, tetap istiqomah dengan tabiatnya yang suka delay. Dua orang kawan yang harusnya ikut dalam rombongan, belum tampak hingga pukul 2 pagi. Saya bisa berharap, namun Pelni terus memperbaiki diri, pukul 2 tepat sauh Kapal Lambelu ditarik. Kapal pun meninggalkan Pelabuhan Makassar. Ririz akhirnya tak ikut merasakan nikmatnya first class seperti yang kami rasakan.

Ririz Rizkiyana Pratmawaty, seorang perempuan bertubuh mungil perantau asal Jakarta. Awalnya merantau ke Makassar karena urusan sekolah, melanjutkan kuliah di Universitas Hasanuddin, namun kini merantau karena urusan hati pekerjaan. Doski adalah seorang pengajar di salah satu pre-school di Makassar. Saya mengenalnya pertama kali saat di Labuan Bajo, akhir tahun 2014, saat kami sama-sama menumpang Kapal Tilongkabila yang bertolak ke Makassar.

Cukup banyak deramah yang dialaminya selama JelajahSumba[wa]. Pada hari keberangkatan, doski ketinggalan pesawat di Jakarta yang menyebabkan ia ketinggalan Kapal Lambelu. Untungnya masih ada Kapal Umsini yang akan berangkat pukul 12 siang, 10 jam setelah keberangkatan Lambelu. Tapi sialnya, doski tiba di Pelabuhan Makassar 15 menit setelah Umsini menarik jangkarnya. Namun karena tekad yang bulat demi sebuah cita-cita, esok harinya Ririz menyusul kami ke Flores dengan pesawat dan tiba di Ende, tiga jam setelah kedatangan kami.
Ada harga yang mahal untuk sebuah cita-cita ๐Ÿ˜‰

Ade Barto
Ade Barto

 

โ€œMbak, saya cofirmed ikutโ€ Demikian pesan BBM yang saya terima seminggu sebelum kami memulai JelajahSumba[wa]. Pesan dari seseorang yang belum pernah bertemu langsung. Saat melihat profil picturenya, saya sangsi apakah anak ini yakin mau traveling dengan gaya backpacking. Saya ragu apakah seorang executive muda mau berpanas-panas ria, mau berhitichike ria dalam rangka liburan. Karenanya saya memintanya untuk membaca cerita tentang #JelajahFlores yang saya simpan di file grup Facebook Makassar Backpacker. Biar ada gambaran seperti apa perjalanan yang akan diikutinya. Dua minggu kemudian saya menerima pesan BBM yang menyatakan kalau dirinya tidak berubah pikiran. Dan lima hari sebelum keberangkatan kami akhirnya bertemu untuk pertama kali. Dan di pertemuan pertama ini saya langsung mendapat undangan. Undangan mengunjungi Raja Ampat!

Ade Barto, demikian lengkapnya, seorang karyawan salah satu eco resort di Raja Ampat. Tak heran bila dengan gampangnya dia bisa menawarkan berlibur ke salah satu tempat kece di Indonesia yang terkenal mahal ituH. Dia seorang yang pemurah dan penyayang. Sesaat sebelum menyeberang ke Pulau Kenawa, hampir separuh isi Alfamart diborong Ade. โ€œbiar teman-teman bisa party selama di pulauโ€, demikian alasannya.
Karena cukup lama tinggal di tanah Papua, selama JelajahSumba[wa] kami seringkali meminta Ade untuk ber-mop ria. Mop adalah cerita-cerita lucu Papua yang disampaikan dalam dialek Papua. Meski berdarah Bugis dan Toraja, Mop dengan dialek Papua kental, mengalir lancar dari mulut Ade dan sukses membuat panggung stand-u comedy p di Kapal Wilis ๐Ÿ˜€

Seperti dugaan saya, perjalanan menjelajah Sumba dan Sumbawa ini adalah pengalaman backpacking Ade yang pertama kali. Pertama kali naik kapal kelas ekonomi, pertama kali menumpang truk dan pertama kali numpang tidur di masjid. Sayangnya sepulang dari Kenawa Ade harus terbang ke Denpasar. Urusan penting di Denpasar mengharuskannya membatalkan kunjungan ke Pulau Moyo dan melewatkan kesempatan ber-truk ria dengan seekor sapi ๐Ÿ˜€

Achmad Zuharyadi
Achmad Zuharyadi

 

Sesungguhnya nama yang tercatat di akta kelahirannya adalah Achmad Zuharyadi namun ia lebih terkenal dengan nama bekennya, Andhy Caprof. Pertama kali bertemu dengannya saat kami mempersiapkan perayaan anniversary Makasssar Backpacker yang kelima, medio 2014. Saat itu kami membutuhkan penari untuk mengisi acara. Andhy yang tergabung di UKM Tari UNHAS menawarkan kawan-kawannya untuk menari Paduppaโ€™, tarian selamat datang, di pembukaan perayaan Anniversary. Tak hanya sukses mendatangkan para penari. Andhy juga sukses mencomblangi salah satu penari dengan salah satu panitia anniversary, dan kini menjadi satu dari sekian pasangan yang bertemu jodoh di Makassar Backpacker.

Seperti Ichwan, Andhy juga seorang calon Psikolog, orangnya luwes, mungkin karena ia seorang penari, ditambah lagi ia berdarah Bugis Bone. Suku di Sulawesi Selatan (Sulsel) yang terkenal keluwesannya. Kalau di Jawa ada Solo, di Sulsel ada Bone. Selama JelajahSumba[wa] ia sering menjadi juru bicara, bukan karena keluwesannya ya, tapi diantara kami, Andhy adalah orang yang paling tinggi jiwa inisiatifnya. Ia berinisiatif mencatat itinerary perjalanan, berinisiatif mencatat ketua dan bendahara harian. Selalu berinisiatif mengantri makanan lebih dulu di pantry kapal. Berinisiatif mencari mobil sewa, dll, dkk, dsbnya.

JelajahSumba[wa] berakhir di Kota Bima, Pulau Sumbawa. Di kota ini kami tinggal selama 2 hari dan bermalam di rumah seorang kenalan yang kami temui di kapal fery saat menyeberang dari Waikelo ke Sape. Suatu pagi saat akan mandi, Andhy melihat kabel telanjang melintang di kamar mandi, khawatir si kabel akan menimbulkan masalah bagi teman-temannya yang akan mandi nanti, Andhy berinisiatif menggunting kabel tersebut. Kami memang terhindar dari sengatan kabel telanjang, tapi kami juga hampir terhindar dari mandi pagi, karena ternyata kabel yang digunting adalah kabel mesin air. Ulalaโ€ฆ Sejak saat itu Andhy bertekad mengambil pelajaran penting, untuk selalu bertanya dan tidak selalu mengandalkan insting inisiatifnya ๐Ÿ˜€

Hasma Rita
Hasma Rita

 

Kalau di pihak laki-laki, ada Ophec yang tak banyak ngomong, di pihak perempuan ada Rita, lengkapnya Hasma Rita. Mungkin saking jarang ngomongnya, saat hari keberangkatan ia lupa kalau jadwal berangkat Kapal Lambelu itu pukul 2 dinihari, bukan pukul 2 siang. Deramah ketinggalan kapal season dua pun tercipta ๐Ÿ˜€ . Namun Rita lebih beruntung dari pemeran di season pertama pertama, Ririz. Kapal Umsini masih berjodoh dengannya, dan berlayarlah doski seorang diri menuju Maumere mengejar impian rombongan pertama.

Perempuan berjilbab ini adalah salah satu karyawati di perusahaan coklat multinasional di Makassar. Bertugas di bagian laboratorium, mengawasi pertumbuhan bakteri. Mungkin itu alasan sehingga ia jarang ngomong, berkawan dengan bakteri sih ๐Ÿ˜€ Namun sesugguhnya bagi saya, Rita ini laksana mesin diesel, lambat panas. Di awal-awal, saat kami berfoto dengan ekpresi se-aktif mungkin (baca: segila mungkin), Rita tetap dengan gaya kalemnya. Saat kami tertawa ngakak mendengar mop dari Ade, Rita hanya tersenyum kalem. Namun saat JelajahSumba[wa] akan berakhir, Rita mulai membuka topengnya, ia baru mulai tune in. candaan-candaan ringan mulai dikeluarkannya. Ah, sepertinya dia butuh waktu satu bulan, biar bisa ikut gila seperti kami.

Khadijah Jimran
Khadijah Jimran

Saya memanggilnya Dije. Entah kenapa setiap punya kawan yang bernama Khadijah, saya selalu memanggilnya Dije. Padahal kata orang bijak, panggillah seseorang dengan panggilan yang disukainya. Tapi selama JelajahSumba[wa], doski tenang-tenang saja dipanggil Dije, ndak ada aksi protes apalagi demo ๐Ÿ˜› Beberapa teman yang lain memanggilnya โ€œkak sistaโ€, mengikuti panggilan kesayangan dari Mamah Isma, sista (sister-red).

Nona manis berkulit sawo dan berjilbab ini adalah seorang guru di Enrekang, salah satu kota di utara Sulawesi Selatan. Pernah tinggal di Maluku Utara demi tugas mulia sebagai seorang guru. Doski adalah satu-satunya tim jelajah yang tidak saya ketahui gambaran dan rupanya, hingga kami bertemu pertama kali sesaat sebelum menaiki Kapal Lambelu yang membawa kami ke Maumere. Selama JelajahSumba[wa] Dije selalu nempel dengan Isma, persis kayak prangko (jadulnyaaa :D). Foto selalu berdua, tidur berdampingan, makan berdua, mencuci berdua, cuma mandi saja yang tidak berdua ๐Ÿ˜€

Syarief
Syarief

 

Dari seluruh Funtastic sixteen, saya paling akrab dengan Syarif, mungkin karena kami cukup sering ikut di trip yang sama. Seingat saya, JelajahSumba[wa] ini adalah trip ke-6 saya bersama Syarif. Seorang mantan karyawan swasta yang sehari sebelum keberangkatan memilih resignย dari pekerjaannya karena tidak sesuai dengan hati nurani. Cieeeeeeehโ€ฆ

Pelni Men, mungkin ini gelar yang cocok untuknya. Setiap melakukan perjalanan dengan Kapal Pelni, saya selalu mengandalkan Syarif. Ia cukup lihai mencari tempat-tempat strategis dan nyaman meskipun kapal sudah dipenuhi penumpang. Lima kali pengalaman berpelni ria, kami selalu mendapat tempat yang layak. Bahkan saat JelajahSumba[wa] kami sempat merasakan tidur di first class, gara-gara sebelumnya Syarif memilihkan kami tempat tak jauh dari kamar Kapten Kapal.

Di perjalanan pulang ke Makassar kami menempati dek 3 KM Tilongkabila. Tempatnya cukup bersih dan tak ada orang lain yang menempati selain kami. Namun suhu di dek 3 ini sangat panas, membuat kami tak nyaman. Syarif dan 5 orang kawan lainnya akan turun di Labuan Bajo, mereka akan lanjut ke Pulau Komodo sementara yang lainnya akan terus Makassar. Tiga jam sebelum turun di Labuan Bajo, Syarif dan beberapa teman sibuk mencari tempat yang lebih nyaman untuk kami. Dan Alhamdulillah kami bisa pindah dari dek 2 ke dek 3 yang sedikit lebih nyaman. Ah, terberkatilah mereka.

Afdhal Ma'rifah
Afdhal Ma’rifah

Silahkan klik di sini untuk tau tentang doski ๐Ÿ˜‰

4 Replies to “Funtastic sixteen

  1. Mantap…….butuh waktu 22 menit untuk menuntaskan bacaan yg sangat menarik dan kadang mebuat tersenyum sendirri, dalam hati bertanya. siapakah yg bertemu jodoh di acara Anniversary MB ?…penasaran mau tau….( Mifta kali…? ) hahahaha
    Salut……..dditunggu tulisan berikutnya….!!!!

    1. wuiiih, 22 menit? hehehe..
      saya juga butuh waktu 20 hari lebih untuk merampungkan ini tulisan. lamaaa ๐Ÿ˜€
      Cocok mi itu tebakan ta, si Goncar, hehehe..

      Makasih sudah menyempatkan mampir Om Dodo ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *