Puteri Diana dan truk sapi. *Jelajahsumba[wa] hari kesebelas

Medio Agustus 1993, Pulau Moyo “gempar”!! seorang puteri ternama, ibu dari pewaris tahta kerajaan Inggris, mengunjungi pulau tersebut dan menghabiskan waktu liburnya selama 3 hari. Namun kedatangannya hanya diketahui segelintir orang, manager hotel tempat sang puteri menginap dan duta besar Inggris untuk Indonesia. Bersama tiga orang kawannya, sang puteri mengunjungi pulau yang terletak di Teluk Saleh ini.

Selain menikmati pantai, sang puteri juga menikmati salah satu air terjun di pulau ini. Dan meninggalkan jejak. Areal air terjun tempat sang puteri mandi, diberi nama seperti namanya, kolam Puteri Diana.

Dulu kisah tentang kunjungan Puteri Diana hanya saya dapatkan dari internet, namun semalam, kisah yang sama mengalir langsung dari bibir salah seorang Jamaah Masjid Nurul Huda, Labuan Aji, Pulau Moyo. Sang Bapak menceritakan bagaimana Pulau Moyo tiba-tiba ramai dikunjungi orang penting beberapa hari setelah kepulangan sang puteri.

Puteri (wannabe) di Pulau Moyo :D
Puteri (wannabe) di Pulau Moyo πŸ˜€

 

Seperti biasa, jam setengah 5 pagi kami sudah terbangun dan langsung merapikan kantung tidur agar tidak mengganggu pemandangan jamaah Masjid Nurul Huda yang akan datang melaksanakan shalat subuh.
Subuh ini tak ada ritual antri kamar mandi. Bukan karena masjid tempat kami menginap belum memiliki kamar mandi, namun hari itu destinasi kami adalah air terjun! Air tawar! Air segar! Air segar yang melimpah ruah.

Sejak meninggalkan Waingapu, mandi dengan air tawar adalah barang mewah bagi kami. Tiga hari di Waikelo, kami harus rela setiap hari membersihkan diri dengan air setengah asin. Dua hari di Sumbawa kami cuma sempat mandi satu kali di Masjid Poto Tano. Jadi tujuan kami datang ke Pulau Moyo ini adalah untuk mencari sumber air tawar, hehehe…

Informasi yang tertulis di papang petunjuk, Mata Jitu berjarak sekitar 7km dari Labuan Aji, karenanya sekitar pukul 6 pagi kami sudah meninggalkan masjid setelah sebelumnya menitipkan backpack di rumah pak imam. Perjalanan mencari sumber air tawar ditemani Pak Iwan, seorang warga yang sejak semalam menawarkan diri untuk menemani kami melihat-lihat Pulau Moyo.

Pulau Moyo adalah pulau kedua terbesar di Sumbawa dengan luas kurang lebih 32 ribu hektar. Beberapa areal laut pulau ini dijadikan Taman Wisata Alam Laut dan lebih dari separuh luas daratannya dijadikan Taman Buru. Ada enam dusun di pulau ini, dan Labuan Aji adalah dusun paling ramai karena menjadi pintu masuk ke Moyo.
Selain laut dan hutannya yang menjadi tujuan wisata, juga terdapat dua air terjun, Mata Jitu dan Diwu Mba’i.

Karena jarak tempuh yang lumayan jauh, kami mencoba mengatur langkah, mencadangkan tenaga. Tidak terburu-buru. Berjalan memakai prinsip pelari maraton. Lambat di awal, kencang di akhir grin emoticon grin emoticon
Sepanjang jalan menuju air terjun kami disuguhi dengan pepohonan dari kebun warga di kiri kanan jalan. Teduhnya pepohonan membuat perjalanan tidak terasa berat. Sesungguhnya untuk mencapai Mata Jitu, kita bisa menggunakan ojek, ongkosnya 75 ribu pp. Cukup mahal lah buat kantong backpacker.

perjalanan menuju Air Terjun Mata Jitu
perjalanan menuju Air Terjun Mata Jitu

Setelah berjalan sekitar 2 jam, kami mulai mendengar suara percikan air, dan ternyata kami telah tiba di Air Terjun Mata jitu. Ah, rasa kecewa tiba-tiba menghampiri.
“He? Sampe mi? perasaan ini belum 7 kilo, disimpan-simpan tommi tenaga ta”.
Perjalanan yang kami pikir akan menghabiskan waktu sekitar 3-4 jam, ternyata cuma butuh waktu 2 jam. Ah, baru kali ini ukuran jarak warga lokal lebih pendek dari perkiraan saya πŸ˜€
“Mandinya di atas saja, di kolam Lady Diana”, kata Pak Iwan sambil mengajak kami untuk jalan lagi. Wuiih kolam sang puteri, jack! Siapa tau saya bisa jadi puteri :p :p

Sekitar 300 meter kemudian nampaklah kolam yang dimaksud. Benar-benar sumber air tawar! Airnya nampak bening menghijau karena bayangan pepohonan di atas kolam. Di sini air terjunnya tak begitu tinggi.

Byaarrrrr, beberapa kawan mulai lompat ke tengah kolam. Kulit mereka sudah sangat rindu dengan air.
Tak ada kamar ganti di sekitar kolam. kami mandi dengan pakaian di badan, yang sudah penuh keringat :p
Air terjun ini benar-benar alami, di tengah hutan dan sangat private.
Melompat, berenang, berendam, berjacussy ria, melompat lagi dan foto-foto. Kami benar-benar menikmati segarnya air terjun Mata Jitu hingga Pak Iwan mengajak kami kembali ke air terjun yang dijumpai pertama kali.
Di air terjun pertama juga terdapat kolam namun kolamnya cukup dalam, sehingga kami cuma foto-foto dengan background air terjun.

Kolam Puteri Diana
Kolam Puteri Diana

Dari Mata Jitu kami berpindah ke air terjun Diwu Mbai. Untuk mencapai air terjun ini kami harus kembali ke Labuan Aji. Meski jaraknya cuma sekitar 3 km dari Labuan Aji, beberapa teman memilih untuk istirahat saja di Masjid, tidak lanjut ke air terjun. Mungkin mereka sudah lelah grin emoticon grin emoticon
Diwu Mbai tak seperti Mata Jitu, bagi yang mau berenang di kolamnya harus melompat terlebih dahulu. Menariknya di sini ada tambang yang diikat ke pohon dan menjadi alat bantu untuk lompat ke kolam.

Sumber air tawar sudah ditemukan, tujuan kami ke Moyo sudah tercapai, saatnya kembali ke Sumbawa. Usai shalat jumat, kami kembali memanggul backpack, menuju kapal yang kemarin mengantar kami.

Perjalanan pulang kami tak seberuntung saat pergi, tak ada Lumba-lumba yang mengiringi perjalanan kami. Seperti saat kedatangan kemarin, lautan begitu tenang, tak ada gelombang sama sekali. Padahal konon setiap Bulan Desember gelombang biasanya cukup besar di Teluk Saleh.

Setelah kurang lebih dua jam berlayar, Pak Bambang, sang nakhoda, mengarahkan kapalnya ke Pelabuhan Goa, bukan ke Muara Kali. Di pelabuhan ini ada dermaga, tak seperti di Muara Kali, sehingga kawan kami tak perlu lagi merelakan pahanya untuk dijadikan tangga πŸ˜€ πŸ˜€

Ternyata selain Muara Kali dan Labuan Badas, ada juga Pelabuhan Goa yang menjadi tempat parkir kapal-kapal yang bisa disewa untuk ke Pulau Moyo.
Selain pelabuhan, Goa ini menjadi salah satu tempat tempat rekreasi, karena pantai yang dimilikinya.
Tak jauh dari Pantai Goa terdapat kios-kios yang menjajakan ikan bakar dan makanan lainnya. Kamipun mampir mengisi kantong tengah sebelum melanjutkan perjalanan ke Bima. Goa – Bima masih sekitar 250km, butuh tenaga yang banyak untuk mencapainya. Karena kami sudah bertekad bulat, perjalanan ke Bima harus hitchhike lagi, sudah kangen rasanya dapat tumpangan gratis πŸ˜€

Usai makan, kami menuju jalan utama yang jaraknya sekitar setengah kilometer. Kembali kami menaikkan jempol, mencoba mencari tumpangan. Karena hari libur, tak banyak mobil yang kosong yang lewat. Umumnya berpenumpang banyak. Nampaknya mereka baru pulang dari rekreasi merayakan tahun baru.

Menjelang magrib, akhirnya sebuah truk berhenti di depan kami. Meski tujuan si truk hanya sekitar 30km dari tempat kami saat itu, kami tetap naik. Tak apalah, yang penting kami harus move on!!
Tiba di tujuan, pemilik truk mengajak kami mampir ke rumahnya. Berhubung telah masuk waktu magrib, kamipun mengiyakan. Tak hanya tumpangan truk yang kami dapat, sang istri juga menyuguhi kami teh panas dan cemilan. Alhamdulillah.
“Karena ini hari libur dan sudah malam, kayaknya agak susah untuk dapat mobil apalagi bus”, kata sang istri. “Kalau mau, lanjut naik truk ini saja, kalian cukup bayar biaya bensin dan uang rokok untuk supirnya. 1.500.000, cukuplah”. Sambungnya.
Duh, angka yang cukup mahal menurut kami. Selain itu, kami sudah sepakat untuk cari tumpangan gratis, karena setengah dari kami masih akan melanjutkan trip ke Pulau Komodo, masih butuh banyak biaya.
Dengan halus kami tolak tawaran si ibu. Kamipun pamit dan menunggu tumpangan di depan rumah mereka.

Tak lama menunggu, sebuah pikap berhenti, saat kami siap-siap naik. Sang pikap tiba-tiba beranjak. Ternyata bapak pemilik truk yang tetap mengikuti kami menyuruh sang supir pikap untuk jalan karena tujuan akhirnya bukan Bima, tapi hanya sekitar 8km dari rumah si bapak. Duh! Niat baik si bapak tidak seperti prinsip kami.

Harus pindah tempat!
Yang kami pelajari dari pengalaman hitchhike adalah, kalau lama tak dapat tumpangan, bergeraklah, berpindah tempat lah.Benar saja, tak lama setelah kami pindah tempat, sebuah truk berhenti, meski nampaknya ragu-ragu.
Tiga orang kawan langsung bernegosiasi dengan sang supir. Agak sedikit lama.
Sampe Bima” kata seorang kawan ketika kami tanyakan ke mana tujuannya. “Alhamdulillah
“Tapi harus berbagi tempat dengan sapi, nah
” sambung sang kawan.
“He? Serius?!?” tanya kawan yang lain
“Bukan ji sapi, motor” kawan yang ikut nego ikut menimpali.

Ulalaaa, ternyata kami harus berbagi ruang dengan Sapida Motor dan Sapi!!
Tak ada pilihan lain. Jarak yang harus ditempuh masih 200km, sementara waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kendaraan yang lewat pun bisa dihitung jari.
Akhirnya malam itu kami menuju Bima bersama seekor anak sapi.
Perjalanan yang benar-benar sempurnaH…!!!
Diawali dengan bermalam di kamar first class, diakhiri dengan bermalam di truk sapi πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€
Bumi berputar, puteri!!

our new travelmate
our new travelmate

Biaya:
Sewa kapal : 1.800K (130.K)
Makan pagi : masak ransum
Makan siang : 8K
Air mineral : 5K

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *