#Bacaituseru: The Jilbab Traveler

Judul : The Jilbab Traveler
Penulis : Asma Nadia, dkk

Belasan tahun yang lalu, kata jilbab traveler masih sangat asing di telinga kita. Jangankan melakukan traveling, keputusan untuk memakai jilbab pun masih dibilang sesuatu yang aneh, sesuatu yang ‘ekstrim’. Banyak yang beranggapan dengan berjilbab hidup seseorang akan monoton dan ruang gerak akan terhambat. Jilbab dianggap sebagai langkah mundur. Namun kini anggapan-anggapan tersebut terbantahkan.

Jilbab bukan penghalang mimpi Anda, mimpi melihat sisi lain dunia ini. Dengan berjilbab kita bisa tetap mengepakkan sayap, traveling dan menapakkan kaki di bumi Allah yang sangat luas ini. Namun kadang traveling menjadi agak ribet bagi para muslimah. Bawaannya lebih banyak karena baju dan rok atau celana harus yang panjang, yang tentu akan membuat travel bag menjadi gemuk. Belum lagi jilbab yang harus disesuaikan warnanya dengan baju atau rok, agar nampak matching saat difoto.
Pokoknya Ribet!! Apalagi jika traveling ke luar negeri. Sulitnya mencari makanan halal, bingung menemukan tempat shalat yang pas, bahkan dituduh teroris adalah beberapa masalah yang biasa dihadapi oleh para traveler muslim baik pria apatah lagi perempuan.

Buku The Jilbab Traveler ditulis berdasarkan pengalaman traveling Asma Nadia dan kawan-kawannya. Mimpi traveling ke luar negeri Asma Nadia bermula dari pintu kulkas. Ya, pintu kulkas sang oma semasa ia kecil. Pintu kulkas yang berhias magnet kulkas dari berbagai negara. Berbagai cara ia impikan, yang memungkinkannya ke luar negeri. Mulai dari mimpi menikah dengan lelaki yang dikutuk kaya hingga menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW). Dan ternyata, menulis, kegemaran yang dilakukannya sejak kecil lah yang membuat impiannya terwujud!

Allah menerbangkan Asma ke Brunei, lalu ke Thailand, Singapura, Malaysia, Korea, Mesir dan negara-negara yang awalnya hanya dilihatnya di peta, koran, majalah atau televisi. Dan semua perjalanan tersebut sebagian besar gratis!
Asma kini telah mengunjungi lebih dari tiga puluh negara, mungkin telah melebihi jumlah magnet kulkas sang oma dulu.

Lewat buku The Jilbab Traveler, Asma Nadia bersama 15 penulis muslimah lainnya berbagi pengalaman traveling mereka. Bagaimana menikmati dan enjoy bepergian di luar negeri dan beberapa kota di tanah air. Bagaimana seorang jilbaber traveling dan beradaptasi di Pantai Karibia. Bagaimana Asma Nadia harus menyesuaikan diri dengan suasana dan makanan di Korea karena mendapat kesempatan belajar di sana. Dan berbagai kisah traveling menarik lainnya yang bisa menjadi inspirasi bagi para traveler.
Buku ini tidak hanya menceritakan pengalaman solo traveling bagi seorang jilbaber, namun juga suka duka para ibu yang traveling ke luar negeri bersama anak mereka yang masih balita.

Menariknya buku ini juga dilengkapi dengan kamus survive, yaitu beberapa kata standar dan penting yang sebaiknya diketahui saat berkunjung ke suatu negara. Termasuk tips memilih pakaian yang akan dibawa dan bagaimana mengemasnya agar ‘ramping’, tips mencari tiket pesawat, mengatur budget, bagaimana mencari hotel yang bagus namun tidak merusak kantong, bagaimana jika membawa anak saat traveling, cerita mencari makanan yang syar’i, bagaimana menjalankan ibadah shalat di negeri yang tidak mengenal islam, hingga tips bagaimana mengenali modus kriminalitas di berbagai kota di dunia ini.

Namun ada sedikit kekurangan dari buku ini. Di kata pengantar disebutkan buku ini adalah penyempurnaan dari buku pertama, namun ada beberapa tips yang seharusnya tidak muncul lagi dibuku ini, karena tidak update lagi, seperti jika ingin ke luar negeri, traveler harus menyiapkan sejumlah dana untuk pembayaran fiskal, padahal aturan ini tidak berlaku lagi sejak tahun 2011.

Terlepas dari itu, buku ini adalah sebuah alternatif di antara maraknya buku-buku traveling yang saat ini sedang trending, terutama bagi para muslimah. Karena seyogyanya setiap perjalanan yang kita lakukan semakin mendekatkan kita kepada sang pemilik alam, semakin membuat kita mengejar ridha Allah karena kita telah diberi kesempatan untuk melihat lebih banyak.

So Muslimah, mulailah perjalananmu, jangan biarkan orang lain mencuri mimpimu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *