Saatnya berubah..!!! (TEDxMakassar 2012)

Pagi itu, Sabtu 8 Desember 2012 bukanlah hari Raya Imlek atau perayaan Cap Gomeh, namun dua ekor barongsay, yang biasa hadir di dua hari besar masyarakat Tionghoa, tampak menari dan meliuk-liuk berlompatan diiringi tabuhan gendang dan kenong yang sangatriuh di hadapan puluhan pasang mat yang terpukau di halaman Museum Kota Makassar. Ya, hari itu TEDx kembali hadir di Makassar dan menyambut tamu-tamunya dengan suguhan atraksi barongsay.

TEDxMakassar tahun ini yang bertema “Komunitas untuk Perubahan” dilaksanakan di lantai dua sebuah bangunan bergaya Eropa Abad ke-17 yang dibangun pada tahun 1916. Bangunan ini dulunya adalah kantor walikota yang sejak Juni tahun 2000 dialihfungsikan menjadi museum Kota Makassar. TEDxMakassar 2012 menghadirkan pembicara dari delapan komunitas di Makassar yang memiliki ide menarik untuk melakukan perubahan.

“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku, di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku…,
Dengan menyilangkan tangan kanan ke dada, sekitar 100 peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia sebagai pembuka acara TEDxMakassar.
Wow..!!! Indonesia Raya dikumandangkan di bangunan bersejarah, sooo patriotic ^-^

Usai menyanyikan lagu Indonesia Raya, Dilla dan Mawar, dua perempuan cantik yang hari itu memakai kostum vintage, membuka acara TEDxMakassar dengan memberikan gambaran singkat mengenai TED dan TEDx, karena tidak sedikit peserta yang baru pertama kali hadir di TEDxMakassar (plus baru pertama kali menginjakkan kaki di museum kota. wadduh!!).

Setelah tau TEDx itu apa, peserta disuguhkan video TEDx yang berjudul : Before I die I want to…. sebuah film yang menceritakan bagaimana Candy Chang, seorang seniman di New Orleans mengubah sebuah bangunan tua menjadi papan tulis besar, sebuah wadah, di mana para tetangganya bisa menuliskan keinginan-keinginan mereka sebelum meninggal. Candy ingin menyampaikan bahwa hidup ini singkat dan berpikir tentang kematian akan menjernihkan kehidupan kita.

Sekitar pukul 9.30, empat orang perempuan muda dan seorang pemuda berambut panjang naik ke panggung TEDx sambil membawa jarum dan benang rajutan, ini teh pada mau ngapain? Mau merajut? Bukannya pemuda jaman sekarang hanya bisa merajuk? Hehehe. Ternyata kelima pemuda tadi adalah anggota komunitas Perajut Quiqui Makassar. Sartika Nasmar, sang ‘jurubicara’ menceritakan bagaimana mereka menularkan virus merajut yang di mata banyak orang adalah monopoli kaum tua dan perempuan, bagaimana merajut menjadi terapi menenangkan pikiran dan mengasah kecerdasan visual serta bagaimana merajut menjadi sebuah pergerakan. Komunitas ini membuat sebuah program “merajut untuk hak-hak perempuan”, selain menularkan virus merajut, komunitas ini juga intens mengadakan diskusi yang mengangkat isu-isu perempuan.

Komunitas kedua yang membagi idenya untuk perubahan adalah Komunitas Makassar Berkebun, sebuah komunitas yang dibentuk bermula dari keprihatinan Wahyuddin Ma’sud, seorang agronom, dan rekan-rekannya akan kurangnya lahan terbuka hijau yang dimanfaatkan sebagai taman kota di Makassar ini. Kota dipadati dengan kendaraan bermotor, bangunan kian bertambah, sementara hanya terdapat lima taman kota, sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kota Makassar. Bersama komunitasnya, Wahyu mengajak para pemuda memanfaatkan waktu dan lahan kosong, menjadi sebuah kebun di tengah kota. Mereka meminjam lahan yang belum dimanfaatkan oleh pemiliknya, bahkan melibatkan si pemilik lahan menjadi bagian dari komunitas mereka. Tidak hanya berusaha menciptakan ruang hijau, namun aktifitas pemuda berkacamata ini menjadi sebuah penyembuhan stress, wow..!! mau menghindari stress? Cobalah gabung dengan komunitas ini 🙂

Jika mendengar kata Barongsay, saya langsung membayangkan seekor ular naga panjangnya bukan kepalang, uppsss, replika ular naga yang diusung oleh beberapa orang yang lincah menari, meliuk-liuk mengiringi tabuhan gendang. Namun setelah mendengar cerita dari Bapak Hendrik Tejo, seorang pemain dan pemerhati Barongsay di Makassar, saya baru tahu, jika hewan dalam barongsay itu bukanlah naga, melainkan singa. Kata barongsay sendiri berasal dari dua bahasa, yaitu Barong dari Bahasa Jawa yang berarti singa dan Say dari Bahasa Kanton yang juga berarti singa. Sehingga Barongsay berarti tarian singa-singa atau lion dance. Barongsay yang merupaksan hasil asimilasi antara budaya Tionghoda dan budaya Jawa bukanlah sebuah tarian belaka, namun ia mengemban pesan kemanusiaan, salah satunya adalah membawa pesan damai.

Dapur, sumur, dan kasur adalah tiga tempat yang erat dilekatkan pada aktifitas ibu-ibu, atau menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan untuk menyalurkan hobi doyan belanja mereka. Hmmm… apakah aktifitas para ibu memang seperti itu? Eits, nanti dulu, di Makassar ternyata ada Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) loh. Ya, komunitas ini digawangi oleh Ibu Erlina Ayu, yang bersama anggota komunitasnya, yang tidak hanya para ibu tapi juga perempuan muda intens menyalurkan hobi menulis mereka. Bahkan telah menerbitkan beberapa buku.

Ibu Erlina Ayu, seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak, siang itu membagi pengalamannya, bagaimana menulis dengan bakat nol. Menulis itu tidaklah membutuhkan bakat, cukup niat yang kuat dan keberanian untuk menulis apa saja, tanpa perlu takut atau malu dengan tulisan yang dibuat. Semakin sering kita melatih keterampilan menulis kita, dengan sendirinya bakat akan muncul.

Mengambil pesan dari Pramoedya Ananta Tour “Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” Ibu Erlina menutup sesinya siang itu.

Tak mau hilang dari sejarah? MENULISLAH….

Banyak kisah kegagalan, keterpurukan yang dialami oleh seseorang, justru mendatangkan keberhasilan dan manfaat baginya dan bagi banyak orang. Mark Zuckerberg, siapa yang tidak kenal doski? Atau siapa yang tidak tau dengan hasil penemuannya? Facebook, yang kini dimanfaatkan oleh ratusan juta orang di dunia. Mark adalah, adalah mahasiswa yang didepak dari kampusnya karena gagal menyelesaikan kuliahnya. Thomas Alva Edison, ilmuwan yang seumur hidupnya hanya mengenyam pendidikan formal selama 3 bulan, pada umur empat tahun pulang dari sekolah dengan membawa surat dari gurunya yang meminta sang ibu mengeluarkan anaknya (yang agak tuli) dari sekolah, karena menurut sang guru, Tommy kecil sangatlah bodoh. Kini, penduduk dunia sangat tergantung dengan penemuan sang anak bodoh ini, bola lampu. Bayangkan jika tak ada penemuan ini, apa yang bisa kita lakukan saat gelap?

Sepertinya 5.000-an anggota Makassar Backpacker saat ini harus mensyukuri kegagalan yang dialami Syamsul Sunduseng tiga tahun lalu, nah loh..
Setelah patah hati karena ditinggal menikah oleh sang kekasih, Syamsul memutuskan backpacking selama sebulan ke beberapa negara ASEAN untuk menghibur diri. Tak hanya hiburan yang ia dapat, pengalaman melihat negara lain, bertemu dengan sesama backpacker dari berbagai suku, ras, golongan, mahasiswa, professional, dll, membuatnya berpikir untuk membuat suatu komunitas para pejalan di Makassar, Komunitas Makassar Backpacker.

Melalui komunitas ini, Syamsul ingin ‘mengajarkan’ kepada anak muda Makassar, bahwa bepergian ke daerah atau dunia lain, tidaklah sesulit, dan se-mahal yang sering diceritakan orang. Semua bisa kita lakukan dengan cara kita sendiri. Syamsul menegaskan bahwa backpacking itu tidak hanya jalan-jalan, senang-senang, namun kita bisa belajar banyak hal. Backpacking, mengajarkan kita untuk lebih mandiri, lebih toleran kepada sesama dan lebih peka terhadap lingkungan kita. Selain itu, melalui Komunitas Makassar Backpacker, syamsul juga ingin memperkenalkan kepada dunia, bahwa ikon wisata Sulawesi Selatan bukan hanya Toraja, bukan hanya pantai Losari. Sulsel memiliki potensi wisata lain yang perlu dipromosikan tidak hanya oleh pemerintah tapi juga oleh pemuda-pemuda Makassar dan Sulsel. Kita boleh melanglang buana hingga ke ujung dunia, namun budaya dan kampung sendiri jangan dilupakan “Local Cika’ but Global Cess” ujar Syamsul menutup sesinya.

Pernah membayangkan sekumpulan anak kecil yang mengais-ngais sampah mencari sisa-sisa makanan untuk mereka makan kembali? Atau puluhan tangan mungil ditengah-tengah jarum suntik bekas, perban penuh darah, botol sisa infus dan sampah rumah sakit lainnya yang sangat berbahaya?
Beberapa tahun yang lalu, pemandangan seperti ini dengan mudah bisa kita temukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, namun kehadiran Risna dan kawan-kawannya dari Yayasan Pabbata Ummi (YAPTA-U) sedikit-demi sedikit merubah kebiasaan anak-anak pemulung di TPA Antang.

TPA Antang adalah tempat pembuangan akhir sampah-sampah yang dihasilkan sekitar 1.5 juta orang warga Makassar. Areal yang luasnya sekitar 14 Ha ini, setiap harinya menampung ratusan ton sampah yang datang dari seluruh penjuru Kota Makassar. Tidak heran, jika banyak pemulung yang menggantungkan hidupnya di tempat ini, tua, muda dan anak-anak, yang tanpa sadar justru mereka mempertaruhkan hidup mereka.

Bersama rekan-rekannya di YAPTA-U, sebuah komunitas pendamping pemulung, Risna memberikan pembelajaran kepada para pemulung, terutama anak-anak, bagaimana memulung dengan benar, bagaimana mereka tetap bisa melindungi diri meski mencari nafkah di tempat yang menjadi sumber penyakit. Tak hanya cara memulung yang baik, Risna dkk juga mengajarkan membaca, menulis dan melatih kreatifitas anak-anak pemulung dengan metode pendekatan anak, sehingga mereka tidak merasa berada di sekolah yang terkesan serius. Risna dan kawan-kawan pendamping lainnya berharap anak-anak pemulung ini bisa memberikan sumbangsih kepada bangsa.
Satu kalimat penutup Risna yang sempat membuat mata saya berembun “Walaupun kita ada di tempat sampah, bisa jeki juga untuk Indonesia

Di akhir acara, hati kecil saya bertanya, orang-orang yang tampil tadi telah melakukan sesuatu untuk memulai perubahan bagi diri dan lingkungan mereka, mereka telah bermanfaat bagi banyak orang. Nah, saya sendiri, apa yang telah saya lakukan? Apakah kehadiran saya dunia ini telah bermanfaat bagi orang-orang di sekitar saya? Apa yang telah saya kontribusikan untuk mereka?? Entahlah..

Gerimis mulai turun di luar gedung seriring dengan berakhirnya TEDxMakassar hari itu. Rizky De Keizer, seorang bassist menutupnya dengan beberapa lagu..

..I could spend my life in this sweet surrender
I could stay lost in this moment forever
Every moment spent with you is a moment I treasure

Don’t wanna close my eyes
I don’t wanna to fall asleep
Cause..
I don’t wanna TEDxMakassar today ends

2 Replies to “Saatnya berubah..!!! (TEDxMakassar 2012)

  1. Kereeen banget tulisannya Afdhal… walopun panjang, tapi saya penasaran pengen baca terus…

    aahhhh,, saya jadi rindu sama kelas menulis kita.. hehehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *