Menulis yuuukkk…

Sabtu 17 September 2011 saya dapat kesempatan untuk ikut sebuah kegiatan sharing menulis creative yang diadakan oleh Komunitas Blogger AngingMammiri kerja sama dengan salingsilang.com dan Internet Sehat.

Sebenarnya sharing hari itu ada tiga macam, sharing pembuatan video, pembuatan foto dan sharing menulis creative. Karena saat ini saya lagi tertarik ngeblog, tentunya sharing menulis jadi pilihan saya. Jadwal di tiket, kegiatan dimulai jam 9 pagi, karenanya Jam 8 saya sudah meninggalkan rumah karena takut telat, mengingat lokasi sharing, –Gedung LAN- yang lumayan jauh dari tempat tinggal saya. Saya sampai rela melewatkan wawancara Hanum Salsabila, penulis buku “99 Cahaya di Langit Eropa”, yang akan disiarkan pada pukul 08.30 di salah satu TV.

Menunggu setengah jam belum ada tanda-tanda kalo show akan segera dimulai. Setengah jam berikutnya tetap sama. Peserta juga masih banyak yang baru registrasi ulang, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10. Huh, coba tadi telat aja ke sininya, pasti masih bisa melihat cerita Hanum tentang buku kerennya. Ini shownya nda dimulai karena masih banyak peserta yang belum datang ato karena pelatihnya yang belum siap ya..?? tanyaku pada Tata, seorang teman yang akhirnya jadi teman cerita membunuh waktu menunggu. Tak lama nampaklah beberapa panitia hilir mudik di depan kami. Saya malah sempat mengomentari sepatu salah seorang panitia yang juga teman kami. Ta, lihat deh sepatu doski, terlalu resmi ya untuk bajunya yang sporti, hehehe. “ mungkin doski nda pulang ke rumah sehabis ngantor kemarin”. Kata Tata. Oh iya, doski kayaknya punya kamar tidur di gedung ini ya, sambungku 😀

Pukul 10.30 akhirnya salah seorang panitia mengucapkan selamat datang kepada peserta dan memohon maaf lahir batin karena keterlambatan dimulainya acara. Ternyata teman-teman yang mau sharing yang semuanya dari Jakarta lupa menyetel jam mereka ke waktu Makassar yang sejam lebih cepat dari waktu Jakarta. E do do e…

Kegiatan dibuka dengan acara gambar-menggambar. Kami diminta menggambar peta kota Makassar dengan memasukkan nama-nama jalan, bangunan-bangunan penting, taman kota, daerah yang kami anggap paling menakutkan (dan saya ngarang untuk daerah ini), posisi rumah dan kantor kami, tempat favorit kami, tempat yang sering ditunjukkan kepada teman yang baru mengunjungi Makassar dan tempat yang akan dipakai untuk menghabiskan hari terakhir seandainya besok adalah hari kiamat. Wuiihhh, aya-aya wae ini panitia na 😀

Usai gambar-menggambar kami masuk ke kelas masing-masing. Artasya Sudirman sang pemateri sudah menunggu kami. Tasya ini adalah seorang penyiar radio di Jakarta yang aktif nge-blog dan sudah menelorkan satu buah novel berjudul Adriania

“Menulis itu apa sih?” Tasya memulai sesinya dengan sebuah pertanyaan. Menulis adalah menerjemahkan apa yang ada di dalam pikiran, sehingga dapat di lihat mata. Juga berarti berbagi tentang apa yang kita rasakan.
“Mimpi, liburan, kejadian berkesan yang pernah dialami, nguping, curhatan teman, jatuh cinta, patah hati, dengar lagu, nonton film, semuanya bisa dijadikan sumber atau bahan tulisan. Dan semua orang yang melek aksara pasti bisa menulis”, kata Tasya, “buktinya bisa dilihat dari banyaknya orang menulis sms, komentar di facebook, ataupun status di twitter”

Bingung memilih judul? atau bingung sama kalimat pembuka? sibuk memikirkan kalimat keren (wah saya banget ini :D) dan takut ditertawakan adalah beberapa hal yang sering jadi penghalang orang untuk menulis. Padahal hal tersebut bukan hal yang paling menentukan, sambung Tasya. “Pokoknya begitu ada ide di kepala, tulis aja dulu, takutnya ide bisa melayang begitu saja jika tidak langsung ditulis. Soal judul yang tidak keren, soal typo nanti saja baru dipikirkan, kan ada yang namanya edit” sambung Tasya lagi.

“Mulailah belajar menulis, melalui notes di facebook, atau membuat blog. Mulailah menulis dari apa yang kita tahu, mencoba ‘memotret’ fenomena di kepala untuk dilihat dari sudut yang paling kita suka. Jika perlu adakan riset untuk mendukung tulisan kita dan yang terpenting adalah selalu membuka hati untuk melihat hal-hal kecil di sekeliling kita”.

Usai sharing tips menulis, kami diminta membuat tulisan singkat mengenai sepatu yang kami pakai hari itu. Waduh, kok sepatu sih? Saya jadi ingat obrolan saya dengan Tata pagi tadi. Ini mungkin tulah gara-gara ‘mengomentari’ sepatu salah seorang panitia, hehehe…
Dan ternyata isi kepala peserta hari itu semuanya keren-keren. Ada yang menulis tentang satu-satunya sepatu yang telah tiga tahun menemaninya, tentang sepatu yang dibeli dengan merogoh kantong sedalam-dalamnya, tentang sepatu dan status sosialnya, tentang sepatu dan demo bahkan tentang ukuran sepatu dengan nomor 34 yang tentunya bukan nomor biasa.

Saya sendiri menulis tentang kenapa saya memilih memakai sepatu coklat hari itu :

“merah, hijau, atau putih ya..??? Mataku sibuk memilih deretan warna yang ada di rak kayu. Putih, coklat atau hijau..??? Dari rak kayu mataku beralih ke warna yang menutupi tungkaiku. Dan mataku menemukan warna coklat di sana. Hhmmm… mau tabrak norak atau senada? Mataku meminta pendapat sang otak kanan. Dan akhirnya mereka bersepakat memilih dirimu sepatu karet coklatku”

Hari itu selain Tasya, ada juga Endik Koeswoyo penulis buku “Doa untuk Dinda”. Doski yang sudah menulis 14 buah buku berbagi pengalaman bagaimana menjadi seorang penulis buku. Bagaimana suka duka mengirim sebuah cerita kepada media untuk diterbitkan dan bagaimana memulai kerja sama dengan penerbit buku.

Sebelum mengakhiri kegiatan hari itu, Endik membagi motto hidupnya “menulislah sebelum namamu ditulis di batu nisan”.  Jreng…jreng..jreng..

So, tunggu apalagi? menulis yuuuuuukkk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *