Semalam di Singapura

Jam empat subuh kami sudah berlomba untuk bangun, karena kami harus share kamar mandi dengan 14 orang.
Seperti semalam, pagi ini kami dapat sarapan gratis lagi (nyamannnaaaa )..
Karena penerbangan ini adalah penerbangan ke luar negeri dan baru pertama kali, maka tiga jam sebelumnya kami sudah harus ada di airport. Jam tujuh kami menuju airport degan taxi, turun di terminal 1A, eh..ternyata salah terminal, akhirnya ada adegan kejar-kejaran bis 😀

Sampai Soetta, langsung check-in, mengisi kartu keberangkatan dan menyelesaikan urusan fiscal. Tak sia-sia tiap bulan kena pph 21, duit 2,5 jt amaaaann (padahal uangnya belum tentu ada, hehehe).
Waktu check-in sampai cap2an di imigrasi cuma butuh waktu sekitar setengah jam, Alhamdulillah, so far urusannya lancar-lancar saja. Sambil menunggu waktu take off yang masih 2 jam lebih, teman-teman latihan menari Paduppa lagi.

Bosan menunggu lama, saya dan Tiwi keliling areal ruang tunggu, mau keluar bandara sudah ga mungkin, karena sudah lewat pos imigrasi.
Gara-gara keliling ini, passport saya sempat hilang, dicari kesemua tempat yang kami singgahi tetap tak ada. Waduh, masa’ saya harus batal ke luar negeri padahal udah di Soetta? Ternyata passport saya ‘diamankan’ oleh dua orang TKW yang juga akan berangkat ke Singapura. Bukannya ngasih passport saya, salah seorang dari mereka bertanya ke saya dan Tiwi, udah berapa lama jadi TKW? Whattt..??? Alhamdulillah kita dituduh pahlawan devisa 😀
Setelah menjelaskan kalo kami hanya mau jalan-jalan dan ini adalah pertama kalinya kami ke Singapura si Ibu manggu-manggut. Namun passport tak langsung berpindah tangan, si ibu malah minta tebusan, katanya “kalo ga saya amankan udah diambil orang lain loh”, waduh apa lagi ini. Ternyata si Ibu cuma bercanda, sambil menyerahkan passport saya, si ibu menasehati “passportnya disimpan baik-baik, ini harta paling berharga kalo di luar negeri”. Sejak saat itu harta paling berharga ini tidak saya keluarkan dari tas passport saya kecuali di depan pos imigrasi.

Akhirnya panggilan untuk penumpang Lion Air ke Singapura datang juga, kami take off sekitar pukul 11.20. Di dalam pesawat kami diberi lagi kartu kedatangan yang nantinya harus diserahkan ke pihak imigrasi di Bandara Changi. Setelah terbang sekitar dua jam, kami tiba di Changi. Waktu setempat menunjukkan pukul tiga lewat dikit (sejam lebih cepat dari waktu JKT dan sama dengan waktu Makassar), airportnya kereeeeeeeennn, pastinya langsung narsis lah, semua sudut dijadikan objek foto :D. Kami lalu berburu peta, brosur, leaflet, pokoknya semua Spore info sheet.
Puas narsis-narsisan, kami antri di imigrasi, sempat pindah beberapa loket imigrasi, karena kami mencari loket yang petugasnya orang melayu. Tanya kenapa?!? kami sempat dipesan sama bbrapa teman yang sudah pernah ke Singapura, katanya kalo di Bandara Changi, usahakan cari petugas imigrasi yang berwajah melayu, biar urusannya lancar, ternyata ini adalah pesan-pesan sesat >,<

Setelah antri 10 menit, eh salah satu teman memanggil kami, katanya jangan antri di imigrasi dulu, karena kita harus ambil bagasi. Cari kesana-kemari, tempat bagasinya nda ketemu. Ternyata ambil bagasi itu, setelah urusan imigrasi beres, so.. antri lagi, mana antriannya panjang pula. Sempat deg-degan juga, karena ada bule cewe yang di’ajak’ masuk ke ruang imigrasi .
Ternyata di loket imigrasi tak sampe semenit, tanpa ditanya-tanya, tapi mbak melayunya mahal senyum, baru pasang behel kayaknya :D.

Di luar bandara, teman-teman lain yang naik AirAsia sudah menunggu, setelah pembagian kelompok dan janji ngumpul di Merlion jam tujuh malam, saya dan Wawa memisahkan diri menuju City hall dengan MRT, tempat janjian ketemu dengan Alex.

Alex ini adalah teman dari Couchsurfing.org (CS) yang akan hosting kami berdua selama di Spore. Sebulan sebelumnya saya kirim request couch ke Alex, Alhamdulillah langsung di okekan. Sejak itu, Alex rajin sms ngasih tau alamat dan rute menuju rumahnya. Dan ternyata dia mau berbaik hati (lagi) menjemput kami di City Hall.

Kesan pertama setiba di City Hall, orang-orang Spore smuanya super sibuk, jarang skali yang terlihat jalan dengan santai. Saya sampai harus pasang mata baik-baik, jangan-jangan salah satu dari orang-orang yang berjalan cepat itu adalah Alex. Tiba-tiba seorang pria bule dan seorang perempuan India mengahampiri kami, dan langsung menyapa kami, “Hello  Afdhal“. Wah ternyata dialah Alex, sedikit beda dengan fotonya di account CS. Alex datang bersama Annie, tunangannya. Setelah ngobrol2 sebentar, Alex langsung meng-guide kami ke tempat-tempat wisata yang bisa dijangkau dengan jalan kaki dari City Hall.

Tujuan pertama adalah Hotel Raffless. Hotel ini selain berfungsi sebagai tempat nginap juga sebagai restoran dan toko, dibangun pada 1887. Dari Hotel Raffless lanjut ke Esplanade Theater. Gedung ini adalah convention hall untuk pertunjukan seni. Waktu kami kesana, sempat melihat para seniman latihan untuk tampil malam harinya. Gedung ini biasa juga disebut gedung durian, karena jika dilihat dari luar, atapnya seperti kulit buah durian. Dari depan Esplanade kita juga sudah bisa lihat Merlion, icon Singapore. Selanjutnya kami menuju Asian Civilisation museum, trus foto-foto di depan The Fullerton Hotel, seolah-olah nginap di hotel ini :D. Tour sore itu berakhir di Merlion.

Dari Changi sampe Merlion kami nda berani beli minum, soalnya banyak yg cerita katanya harga air mineral di Spore mahal, so kalo mau irit, beli minumnya pas makan saja, padahal hausnya minta ampun, mana jalannya masih komplit dengan backpack, benar-benar sempurnaaa..

Jam 7.30 teman-teman yang lain belum tiba di Merlion, ternyata mereka baru dapat hostel di daerah bugis street, kalo menunggu mereka, paling cepat sejam baru sampe di Merlion. Akhirnya kami putuskan jalan-jalan ke Orchad road. Di Orchad road kami ke I-Setan, foto-foto di atrakasi air depan ION trus mampir, ke Toko Buku Kinokuniya. Hhmm.. jadi tergoda beli salah satu buku, pilihannya “Lonely Planet Mekong Delta”.

Dari toko buku kami cari makan karena sejak siang kampong tengah belum diisi je. Sempat muncul pertanyaan dari Alex “Do you only eat halal food or do you okay with noodles or vegetarian food?”, “Off course we want halal food lah“, jawabku. So, doski berbaik hati hunting makanan yang berlogo halal untuk kami. Akhirnya pilihan jatuh pada nasi lemak, and you know whattt...?? Hanya dengan SGD 1 which is 7 ribu sudah dapat 1 botol air mineral. Giggili pangkal kayaaaaaaa bin haus..

Abis maem, saya sms-an sama Tiwi, kangen juga sama tim yang lain, padahal baru pisah sore tadi, hehehe. Ternyata Tiwi dan timnya lagi explore Orchad juga, langsung janjian ketemu, tapi sampe sms beberapa kali tetap tidak ketemu, padahal biaya sms mayan mahal, Rp. 3.500/sms. karena sudah lelah bolak balik ION – ISETAN, trus pulsa yg semakin menipis namun tetap tdk ketemu Tiwi dkk, kami putuskan jalan-jalan hari itu cukup, lelah sudah masuk stadium akhir.

Dari Orchad kami naik taxi menuju Ang Mo Kio, tempat Alex tinggal. Ang Mo Kio ini katanya adalah jantung barunya Spore dan letaknya di utara spore.
Sampe apartemen sekitar pukul 11 malam, mandi, lanjut sharing pengalaman traveling sama Alex. (sesungguhya cuma Alex yg share, secara doski sudah mengunjungi lebih dari 40 negara). Alex adalah warga negara Jerman, pengacara, dan meski baru empat bulan tinggal di Singapura, doski sangat kagum dengan Spore yang serba teratur.

Jam 1 malam saya terima sms : besok jam 3 ketemu di Stasiun Lavender untuk ambil bis ke Kuala Lumpur (bersambung…)

Cost (IDR):
Taxi ke Bandara : 25K (Share dgn 4 orang), Airport tax : 150K, MRT Changi-City Hall : 18K, MRT City hall – Orchad : 14K

2 Replies to “Semalam di Singapura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *