virus TEDx Makassar

Selasa, dua puluh satu Juni dua ribu sebelas akhirnya datang juga. Ya, hari ini menjadi penting bagi saya dan teman-teman di kantor, karena hari ini kami punya event tahunan yang cukup besar, TEDx. Tau TED kan? Kalau masih belum tau bisa cekidot di sini.

Sejak pagi suasana persiapan di kantor kami, BaKTI, sudah mulai terlihat. Semua orang terhipnotis dengan eforia (halah) event ini.

Event TEDx ini adalah yang kedua kalinya diadakan di Makassar, kalo tahun lalu bertema Komunikasi, tahun ini bertema “Inspiring youth“, dengan menghadirkan pemuda-pemudi Makassar yang punya segudang prestasi dan layak ditularkan.

Karena mengambil tema “pemuda”, kantor kami pun diwarnai dengan ‘pernak-pernik’ pemuda, salah duanya adalah para undangan yang datang disambut dengan atraksi pembuatan graffiti di areal parkiran kantor, seorang undangan sempat nyeletuk, “wah BaKTI rela ya temboknya digraffiti–kan” Hehehe..
Trus setiap undangan di’paksa’ untuk berfoto di red carpet, sebelum masuk ke areal utama TEDx, tak jauh bedalah dengan ajang Oscar di Amrik sono 😀

TEDx Makassar Inspiring youth dibuka dengan penampilan Ariel, seorang pelajar kelas dua SMA yang bersuara emas, dengan dua buah lagu, diiringi gesekan biola.

Dengan digawangi dua MC, pemuda 1960-an dan pemudi tahun 2100, TEDx mulai menampilkan speaker-speakernya yang keren.

Adalah Shanti Riskiyani, seorang dosen muda di Fakultas Kesehatan Masyarakat UNHAS, yang aktif mendampingi ODHA (orang dengan HIV/AIDS) menjadi speaker pertama. Dua tahun lalu Shanti mendirikan Makassar Harm Reduction Community dan berjuang mengurangi penularan HIV/AIDS di kalangan remaja Makassar. Intinya, Shanti mengajak para pemuda untuk tidak memandang sebelah mata bahkan menjauhi para ODHA.

Setelah Shanti, ada Hardinansyah a.k,a Ardy Chambers, owner dari salah satu distro atau meminjam istilah keluarga Ardy, toko “penjual baju” terkenal di Makassar. Ardy membeberkan sekitar 15 pertanyaaan dari ratusan pertanyaan yang sering ditemuinya, baik pro maupun kontra dalam menjalankan bisnisnya.

Selanjutnya ada dua gadis kecil Asriani dan Zayyan. Asriani, lewat foto-foto hasil bidikannya, menceritakan kehidupan orang-orang di tepi kanal, yang penuh dengan sampah orang-orang kota Makassar. Ia berbagi cerita bagaimana ia dan teman-teman kecilnya menghabiskan hari-harinya bermain di tepi kanal. Meski masih kecil, Asriani berhasil menjadi story teller yang keren malam itu.

Zayyan, membacakan cerpennya yang berjudul “ 3 Sahabat dan monster sampah”, cerita tentang anak-anak yang hidup di pinggir kanal, yang membuat saya dan hampir semua penonton tersenyum, terbahak, terhenyak bahkan tertohok. Betapa tidak, cerita yang disampaikan Zayyan sangat sederhana, namun sempat menohok saya yang seringkali protes melihat sampah di mana-mana, tapi baru bisa peduli dengan sampah sendiri.

Usai jalan-jalan di pinggir kanal Makassar, penonton diajak diajak jalan-jalan oleh Agung Firmansyah ke sebuah sekolah dasar di Dusun Tatibajo Majene, Sulawesi Barat. Pemandangan di SD tersebut saaaangatt indah, karena bisa melihat laut dan gunung dari tempat yang sama. Tapi jarak dari desa ke SD ini juga saaaangatt jauh dan medan yang ditempuh pun cukup sulit karena harus melewati sungai yang jika musim hujan arusnya cukup deras, sehingga kadang-kadang murid-murid Agung memilih untuk bolos. Mengapa Agung Firmansyah, seorang pemuda asal Surabaya, penyandang gelar kesultanan eh gelar sarjana komputer dari Universitas Indonesia, mau ‘membuang’ dirinya jauh-jauh ke remote area di Majene? “Kan enak bisa liburan sambil digaji” kata Agung sambil memperlihatkan fotonya yang sedang berenang bersama anak-anak didiknya di sungai. “Selain itu mengajar itu adalah Ibadah praktis, pahalanya tak putus-putus, cocok banget bagi yang malas ibadah “ sambung Agung dengan gayanya yang super cool 😀

Agung, yang menyebut dirinya Mas Guru adalah satu dari sepuluh pemuda dari Program Indonesia Mengajar angkatan pertama yang sejak November tahun lalu menjadi guru SD di Majene. Ia mencoba berbagi cerita serunya menjadi guru bagi anak-anak di Dusun Tatibajo, bagaimana ia ‘menaklukkan’ salah satu muridnya yang sangat ‘aktif’ sehingga disebut little monster, bagaimana triknya supaya tetap betah di daerah yang jangankan internet, sinyal handphone-pun hanya ada di satu titik. Pokoknya prinsip kami “No Listrik no cry, No sinyal santaaiii...”

Cek mike..cek mike..cek mike, bagus ji kah ini mikenya?” Seru seorang gadis mungil berkacama mata tebal sambil memasuki panggung TEDx, dia adalah Dian Aditya Ning Lestari, Mahasiswa Universitas Indonesia, salah seorang co-founder Indonesian Future Leader (IFL), yang punya prestasi diberbagai lomba debat nasional maupun internasional. Dian yang biasa dipanggil Diku, menceritakan mimpi-mimpi dan apa yang mereka kerjakan di IFL. “Intinya kalo mau ki sukses jadi me ki diri ta sendiri“, kata Diku menutup presentasinya.

Pemuda inspiring selanjutnya adalah Yuli Taniadji, seorang urban planner yang pulang kembali ke kampung halamannya, Makassar, karena mempunyai cita-cita yang besar untuk kota ini. Yuli mencoba berbagi pengalaman yang ia dan teman-temannya lakukan untuk Kota Bandung, Ia menceritakan bagaimana usaha mereka mencegah keinginan pemerintah kota Bandung yang berniat ‘mengganti’ sekitar 500 bangunan bersejarah di Bandung.
Menurut kacamata ‘urban planner’nya, ada yang kurang tepat dengan pembangunan di Makassar, ruang terbuka hijau untuk publik masih sangat sedikit di Makassar . “Makassar ini kota ta, kalo mau ki ubah, mulai mi suarakan sekarang”, kata Yuli menutup sesinya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, waktu yang dijadwalkan untuk mengakhiri acara ini. Namun sebagian besar penonton masih betah tah tah duduk di kursinya.

Terlebih saat Sese Lawing, pembicara terakhir, naik ke panggung bersama sebuah gitar. Ini mau menularkan virus atau mau ngamen ya? hehehe…
Setelah membawakan sebuah lagu “Ero ka’ ri Kau” (saya mau denganmu), yang langsung memukau semua penonton, Sese mulai menceritakan proses kreatifitasnya menjadi seorang penyanyi dan penulis lagu, pemuda asal Jeneponto ini menceritakan bagaimana ia merantau ke Jakarta dan akhirnya bisa punya lagu sendiri. Dia memilih konsen pada lagu-lagu berbahasa Makassar yang dikemas dengan musik yang menarik di telinga kaum muda, orang-orang bilang dia adalah Jason Mraz-nya Makassar. Dan saya setuju dengan anggapan ini 🙂

Usai bercerita Sese menyanyikan lagi beberapa lagu, setiap usai bernyanyi, selalu terdengar teriakan-teriakan ‘lagiii, lagii, one more, one more.”
Sese benar-benar sukses menularkan virusnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 kurang 15 menit, pertunjukkan harus segara dihentikan meski sebagian besar masih belum mau beranjak. Alhamdulillah acara TEDx ini sukses..ses..ses..

Satu yang saya tangkap dari anak-anak muda yang hadir di acara TEDx, malam itu mereka menjadi cinta (kembali) dengan budaya Makassar, khususnya lagu berbahasa Makassar. Virus Sese Lawing rupanya menular dengan cepatnya, saya saja yang tidak paham dengan bahasa Makassar, jadi sukaaa dengan smua lagu yang dinyanyikan Sese. aahhh…. Sese, Ero ka’ ri kau..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *