Je T’aime, Juin ..! sepenggal cerita dari MIWF 2011

Pernah dengar puisi yang melegenda ini?

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Puisi karya Bapak Sapardi Djoko Damono yang saaaangat romantis ini jadi semakin romantis saat dimusikalisasi oleh Reda Gaudiamo dan Ari Malibu. Keren, cool, romantic, mantabs, fantastic, awesome, empat jempol, pokoknya semua pujian deh buat mereka. Dan Saya beruntuuung skali bisa bertemu langsung dengan pengarang dan penyanyinya di event yang sama. Ya, minggu ketiga di bulan Juni 2011 lalu Makassar dipenuhi oleh sastra dan puisi-puisi indah yang dibacakan langsung oleh para penulisnya.

Beberapa tahun yang lalu saya pernah berharap, kapan ya.. Makassar punya acara seperti Ubud Writers and Readers Festival. Bisa bertemu, mendengarkan langsung karya tulis yang dibacakan oleh penulisnya dan syukur-syukur bisa ‘mencuri’ ilmu dari mereka.
Tiba-tiba Bulan Maret lalu, seorang teman mengumumkan lewat status facebooknya, kalo di bulan Juni 2011, akan ada Makassar International Writer Festival (MIWF) yang pertama. Langsung doong saya menawarkan diri untuk menjadi volunteer, pucuk dicinta ulam pun tiba nih. Alhamdulillah..

Festival ini berlangsung selama lima hari, 13 – 17 Juni 2011, dan merupakan program pertama Rumata’ Artspace, sebuah Rumah Budaya yang tahun lalu didirikan oleh Riri Riza dan Lily Yulianti Farid. Bekerja sama dengan Writers Unlimited yang berpusat di Hague, Belanda, MIWF menghadirkan 6 penulis asing ; Ton Van De Langkrius (Nethertland), Judith Uyterlinde (Netherland), Abeer Soliman (Egypt), Gunduz Vassaf (Turkey), Maaza Mangiste (Eithopia) dan Rodaan Al Galidi (Iraq) serta 8 penulis Indonesia : Hendra Gunawan (Makassar), Shinta Febriany (Makassar), Hamran Sunu (Makassar), Erni Aladjai (Banggai), Sapardi Djoko Damono (Jakarta), Khrisna Pabichara (Jakarta), Fauzan Mukrim (Jakarta), Trinity (Jakarta) serta Pendiri dan Direktur Ubud Writers and Readers Festival, Janet deNeefe.

Para Penulis Tamu

Kegiatan festival dibuka dengan pembacaan beberapa karya sastra dari penyair dan penulis Indonesia di beberapa stasiun Radio di Makassar. Selama kurang lebih dua jam, Makassar di’banjiri’ puisi-puisi dan karya sastra indah. Di hari yang sama, MIWF 2011 menghadirkan Forum Indonesia membaca untuk berbagi pengalaman dalam membuat bookcraft pada sebuah workshop. Juga menghadirkan Ibu Restu Imansari, salah seorang inisiator pementasan teater I La Galigo, pada workshop “The Making of I La Galigo“. Selain itu Riri Riza sebagai punggawa acara ini juga membagi ilmunya lewat workshop “Adaptasi Sastra ke Sinema”.

Kunjungan ke Pulau Baranglompo

Tidak hanya workshop-workshop, para penulis juga diajak berdikusi dan berbagi puisi dengan komunitas nelayan di daerah Galesong dan Pulau Barang Lompo. Peluncuran Buku The Naked Traveler (TNT3) yang sempat ditarik, juga ada di festival ini.
Di festival ini pula diputar sebuah film “Tribute to Muhammad Salim”, sebuah film yang dibuat untuk mengapresiasi Bapak Alm. Muh. Salim yang mendedikasikan hidupnya untuk menerjemahkan Sureq I La Galigo. Sebelum pemutaran film beberapa penulis termasuk Bapak Sapardi Djoko Damono membacakan beberapa puisi yang diangkat dari cerita Sureq I La Galigo.

Apresiasi terhadap Alm. Muh. Salim

Tim MIWF mengemas festival ini dengan sangat menarik dan komunikatif serta bernuansa lokal sesuai temanya “Merayakan dunia kata-kata dengan warga lokal”. Betapa tidak, ketika Rodaan Al Galidi seorang penyair asal Iraq membacakan puisinya dalam bahasa Belanda langsung diterjemahkan oleh Krisna Pabichara ke dalam bahasa Makassar, bukan diterjemahkan begitu saja, tapi Krisna dengan gayanya mampu mengaduk-aduk emosi penonton, sampai-sampai Rodaan harus membacakan empat buah puisinya untuk memenuhi rasa tak puas penonton.

Puisi Dua Bahasa

Selain itu, saya sempat mewek ketika Abeer Soliman, seorang story teller dari Mesir membacakan penggalan ceritanya yang berjudul “Jam Pelajaran Agama”. Dengan bahasa Arab yang terdengar merdu dan gaya berceritanya yang memukau, Abeer berhasil membuat saya dan para penonton berkaca-kaca (halah). Penggalan novelnya ini bercerita tentang pertemanan dua orang anak kecil yang berbeda keyakinan. Sungguh, Abeer seorang story teller yang keren abis dan sungguh bahasa Arab itu memang benar-benar indah.

Bersama Abeer Soliman

Setelah pembacaan puisi, acara keren selanjutnya adalah “Debat antara Penulis dan Politikus”. Acara yang menghadirkan tiga orang anggota DPRD di Sulsel ini diinspirasi dari acara debat pemacing ikan dan penyair di Darwin. Masing-masing kubu diberi sebuah kata yang harus mereka buat menjadi sebuah kalimat atau paragraph. Para politisi diberi kata-kata yang biasa digunakan para penyair seperti “hujan”, sementara para penyair diberi kata-kata yang sering diungkapkan oleh para politisi seperti “ kesejahteraan”.
Acara ini menarik begitu banyak penoton, abang-abang becakpun yang ada di sekitar Museum Kota Makassar, main venue MWIF, tak mau ketinggalan. Dari hasil debat, ternyata beberapa politisi berbakat jadi penyair dan beberapa penyair cocok jadi politisi saat menjual janji-janji kampanye, hehehe..

Debat Penulis dan Politisi

Festival ini ditutup dengan acara “United Nation of Fish”, sebuah acara makan malam penggalangan dana untuk Rumah Budaya Rumata’. Janet deNeefe mendapat giliran di malam ini untuk bercerita lewat filmnya bagaimana ia membuat masakan dari ikan. Film bermula saat Janet mengunjungi tempat pelelangan ikan dan pasar tradisional di Makassar dan berakhir saat ia membuat masakan di dapur Restoran Djuku.
Setelah Janet, para penulis asing satu persatu menceritakan bagaimana ‘kisah’ ikan di negara mereka masing-masing.

Kisah Ikan dari Mesir

Acara “United Nation of Fish” diakhiri dengan penampilan Duo keren Reda dan Ari yang menyanyikan beberapa puisi Sapardi Djoko Damono, dan membuat semua yang hadir ikut bernyanyi bahkan hingga menari dan berdansa 🙂

Duo Reda & Ari

Dan karena saya manusia Juni, favorit saya tentu yang ini :

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Di serap akar pohon bunga itu”

Duh..mewek lagi saia 😀

Mungkin betul kata orang, bulan Juni adalah bulannya orang-orang romantis (Eh, Gemini itu bukan hanya juni kaleeee..).
Trima kasih ya Allah telah menghadirkan saya di dunia ini pada bulan Juni (apa hubungannya ya :D).

Smoga Juni tahun depan kembali mempertemukan saya dengan MIWF.

Para crew dan penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *